ExitJangan Lupa Klik Like/Suka!

Kamis, 20 Oktober 2011

Ada Rahasia Tersembunyi Dalam Usus Panda


Panda raksasa, hewan yang menjadi ciri khas negeri China ternyata tidak begitu saja mengonsumsi bambu.



Menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of National
Academy of Sciences, ada mikroorganisme di usus mereka yang membantu
mencerna tumbuhan itu meski usus mereka sebenarnya lebih cocok untuk
makan daging.






http://assets.kompas.com/data/photo/2011/10/19/2214316620X310.jpg





Di dunia satwa, panda (Ailuropoda melanoleuca) merupakan hewan yang
paling pilih-pilih dalam urusan makanan. Di alam bebas, mereka makan
lebih dari 12 kilogram bambu setiap hari dan hanya sedikit mengonsumsi
makanan lain.



Mereka perlu makan sebanyak itu karena meski bambu mengandung protein,
gula, lemak, dan nutrisi lain, sebagian besar kalorinya terkunci di
serat selulosa yang sulit dicerna.



Dari sebuah penelitian terhadap dua ekor panda, diketahui bahwa 92
persen selulosa dan 73 persen hemiselulosa pada bambu yang dimakan panda
hanya ‘numpang lewat’ dan berakhir di feses.



Sebagian besar herbivora mengembangkan cara untuk memecah selulosa
menjadi gula. Sebagai contoh, sapi dan hewan lain memiliki sistem
pencernaan rumit yang memiliki beberapa perut yang penuh dengan mikroba.
Mereka mencerna berkali-kali untuk mengekstrak nutrisi dalam jumlah
maksimal.



Namun panda merupakan beruang, hewan yang umumnya mengonsumsi daging dan
tidak memproduksi enzim yang dibutuhkan untuk mencerna selulosa atau
memiliki mikroba seperti hewan herbivora.



Dari survei terhadap usus panda, ternyata hewan itu punya mikroorganisme
yang sama seperti beruang hitam, beruang kutub, dan pemakan daging
lainnya.



Fuwen Wei, ekolog dari Institute of Zoology, Chinese Academy of Sciences
di Beijing kemudian memperhatikan lebih lanjut mikroba yang hidup di
dalam usus panda.



Mereka mengumpulkan sampel dari 7 ekor panda liar di pegunungan Qinling
dan Xiangling di China tengah dan barat, serta 8 ekor panda yang ada di
penangkaran untuk diteliti DNA, bakteria dan juga gen mikrobial yang ada
di usus mereka.



Meski panda liar dan panda yang ada di penangkaran mengonsumsi makanan
serta punya gaya hidup yang berbeda (panda di penangkaran memakan lebih
beragam makanan termasuk buah dan susu), mereka cenderung memiliki
spesies mikroba yang sama di ususnya.



Kedua kelompok beruang itu punya enzim yang memecah selulosa menjadi gula yang lebih sederhana.



Enzim mikrobial itu membantu panda mengekstrak energi lebih banyak dari sedikitnya jumlah bambu yang berhasil mereka proses.



Mikroba ini merupakan bagian dari adaptasi evolusioner, selain rahang
dan gigi yang kuat, jari dan tulang yang memungkinkan mereka mencengkram
tangkai, yang membantu panda hidup hanya dari bambu meski mereka punya
sistem pencernaan hewan karnivora.



Meski demikian, Ruth Ley, mikrobiolog dari Cornell University, New York
menyebutkan, panda juga punya enzim pencerna selulosa yang lebih sedikit
dibandingkan spesies herbivora non eksklusif seperti manusia.



"Kami melihat panda sebagai hewan yang beradaptasi dengan buruk. Cara
utama bagaimana panda beradaptasi terhadap makanan berkualitas rendah
bukanlah lewat mikrobiota seperti sebagian besar hewan lain, tetapi
dengan cara makan terus menerus selama 15 jam per hari," ucapnya.


 


Sumber :

kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar