ExitJangan Lupa Klik Like/Suka!

Sabtu, 03 September 2011

Sains, Bahaya Menggunakan Parfum


Munculnya publikasi banyak riset tentang bahaya yang terkandung di
balik paparan aroma parfum, termasuk parfum tubuh, kosmetik lain yang
menggunakan pewangi hingga pewangi ruangan, menurut sebagian ahli,
sering ditanggapi berlebihan terutama oleh aktifis lingkungan yang tak
mendasarinya dengan pengetahuan yang jelas.

Beberapa lokasi umum
di negara luar bahkan sampai memberlakukan larangan penggunaan parfum
bagi pengunjungnya akibat keresahan yang ditimbulkan dalam taraf yang
sama seperti polusi asap rokok, sementara sebagian organisasi pencinta
lingkungan sempat mengusulkan larangan ini menjadi regulasi resmi
pemerintahnya.










Tanpa bisa dipungkiri, mungkin kita pun pernah merasa pusing sewaktu
mencium aroma parfum atau pewangi yang bagi sebagian dirasakan terlalu
menyengat. Sebagian ahlinya sendiri belum bisa memastikan mekanisme
teoritis terjadinya gangguan ini selain adanya efek polusi kimiawi yang
bisa merangsang sistem saraf dan mengakibatkan gangguan seperti
peradangan dan sumbatansumbatan melalui jalan masuk dari saluran
pernafasan individu tertentu sama seperti sumber aroma lain yang
mengandung bahan kimia petroleum seperti cat, bensin, bahkan yang alami
dari tanaman tertentu.

Penelitian awal tentang efek aroma parfum
dan pewangi ini sebenarnya dialamatkan bagi penderita serangan asma
yang memiliki riwayat kelainan alergik secara spesifik yang bisa
mengakibatkan serangan akut dari penyakit tersebut, di mana sebuah
asosiasi penyakit paru di AS menemukan satu dari lima serangan asma
diakibatkan paparan pewangi-pewangi terutama kosmetik tubuh seperti
aftershave, body cologne, shampoo, sabun, odol dan sebagainya.










Namun toleransi yang berbeda dari tiap individu, bagaimanapun, menurut
mereka, turut memegang peranan di dalamnya, terutama bagi penderita
sindroma yang mereka sebut dengan MCS (Multiple Chemical Sensitivity).

Tak
hanya bagi pernafasan, untuk alergi kulit pada individu yang menyimpan
bakat sensitifitas berlebih ini juga memegang peranan yang signifikan.
Paparan terhadap aroma ini lebih lanjut akan beresiko terhadap sistem
saraf atas potensi neurotoksik bahan kimia tersebut, dan dasar ini yang
dijadikan sasaran banyak penelitian lanjutan yang akhirnya mulai
membuat regulasi bebas polusi parfum ini menjadi marak di beberapa
negara tertentu. 





Dalam sejarahnya, penggunaan parfum berabad-abad yang lalu kebanyakan
diekstrak dari sumber alami seperti tumbuhan bahkan hewan, namun
kesulitan yang ada kemudian dipermudah oleh teknologi hingga muncul
bahan kimia sintetik yang jauh lebih mudah diproduksi dengan biaya lebih
murah.

Resikonya juga menjadi lebih besar atas efek kimiawi
bahanbahan sintetik yang sebagian besar merupakan olahan petroleum ini,
diantaranya potensi mempengaruhi sistem persarafan, reaksi alergi,
hingga cacat janin dan kanker.

Namun seperti penggunaan bahan
kimia lain yang semakin sulit dihindari mulai dari plastik, bahan
bakar, dan sebagainya, tiap-tiap bahan kimia ini juga memiliki batas
aman yang akan berkaitan lagi dengan sensitifitas tiap individu yang
berbeda-beda.

Secara ekologis, bahanbahan ini sekarang memang
banyak dituding ikut serta dalam pencemaran udara dan lingkungan yang
berperan dalam pemicu menipisnya lapisan ozon, namun sejauh ini banyak
usulan dari organisasi berbasis lingkungan tadi belum disetujui secara
menyeluruh terutama oleh FDA atau Consumer Product Safety Comission, AS
yang memang menjadi palang terdepan keamanan penggunaan bahanbahan
kimia tadi.










Dan dari sekitar 500 bahan kimia sintetik yang digunakan dengan efek
pada sistem saraf termasuk efek neurotoksik dan karsinogenik
berbeda-beda kadar dan lama paparannya, yang paling lazim digunakan
antara lain adalah diethylalomine, propylene glycol, ethanol, acetone,
sodium lauryl sulfate dan fluoride ; dengan efek yang bisa menyebabkan
kekeringan tenggorokan, nausea, inkoordinasi hingga koma dari rangsangan
sistem saraf dalam paparan lama dan terusmenerus, kemudian
benzaldehyde yang bisa merusak paru dan ginjal, benzyl acetate yang
bersifat karsinogenik dan dapat diserap dari jalan nafas serta kulit,
benzyl alcohol yang punya efek iritatif terhadap saluran pernafasan,
camphor, ethyl acetate yang rata-rata memiliki efek sama terhadap
sistem saraf melalui saluran pernafasan.

Secara sekilas, semua
bahan kimia sintetik yang menjadi bahan dasar pembuatan parfum tersebut
memang terlihat sangat berbahaya, namun rata-rata sistem tubuh juga
memerlukan paparan yang lama disamping adanya batas aman penggunaannya
untuk bisa menimbulkan gangguan lanjut.










Mengingat menghapuskan penggunaan bahan-bahan berbasis parfum ini dari
aktifitas sehari-hari juga cukup sulit karena sebagian diantaranya
merupakan kebutuhan utama, agaknya kita juga tak memiliki pilihan lain
selain menunggu sejumlah penelitian lanjutan yang nantinya akan bisa
merubah resiko bahan-bahan kimia terhadap kesehatan tadi untuk
dikategorikan aman atau malah menciptakan suatu regulasi baru secara
menyeluruh.

Untuk sementara yang bisa dilakukan tak perlu dengan
menanggapinya secara resah, namun cukup dengan membatasi penggunaannya
agar tak menimbulkan resiko paparan yang berlebihan, dan menghindari
beberapa produk yang ada jika memang memiliki riwayat sensitifitas
tertentu.








Sumber :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar