Baca Selengkapnya . . .
ExitJangan Lupa Klik Like/Suka!
Tampilkan postingan dengan label Resensi Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Novel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Agustus 2011

Resensi Novel Neraka Dunia

A. SINOPSIS (Cerita Singkat)

Ahmad Salam tokoh utama dalam cerita ini digambarkan sebagi seorang pemuda cerdas yang kebetulan sekolah Menengah Ekonomi di Jakarta.Kegemaran Ahmad Salam adalah bermain musik serta berkesenian. Tidak heran kalau dia suka keluar rumah, untuk kegemarannya tersebut.

Suatu ketika datang rombongan komidi dari medan yang pentas di Jakarta. Karena sesuai dengan minatnya, yakni berkesian maka hampir tiap malam Ahmad Salam tidak melewatkan kesempatan tersebut untuk menonton.Seringnya Dia datang ketempat tersebut mengakibatkan Dia menyukai seorang wanita pemain komidi bernama Siti Delima. Kecintaannya kepada Siti Delima membuat Ahmad Salam tidak memikirkan lagi sekolahnya.Ia mengikuti rombongan komidi dari medan tersebut ketika tampil di Bandung,bahkan keliling pulau jawa. Dia rela bergabung dalam komidi tersebut diseksi kesenian,hingga rombongan tersebut sampai di Surabaya.

Di sinilah nasib Ahmad Salam berubah,komidi tersebut mengalami permasalahan sehingga membubarkan diri.Untuk memenuhi kebutuhannya Ahmad Salam dan Siti Delima mencari nafkah dengan mencoba bekerja apa adanya.Namun pada suatu malam tanpa sepengetahuan Ahmad Salam,Siti Delima tak tahu rimbanya. Sepeninggal Siti Delia inilah Dia seolah sebagai orang yang tak berguna, Ia terkatung katung di kota buaya tersebut.

Saat kehidupannya terjepit itulah Ia mencoba mencari pekerjaan, beruntung Ia mendapatkan pekerjaan di kantor koloniale bank.Mula-mula gaji yang di dapat memang kecil,namun ketika penghasilannya semakin besar Ia tidak lagi ingin kembali ke Jakarta, melainkan ingin bertualang dengan mencari kesenangan dan hiburan.

Dalam pergaulannya bertemulah Amad Salam dengan seorang pemuda bernama Aladin.Dengan pemuda inilah Ia merasa cocok untuk mencari kesenangan di kota Surabaya tersebut. Tidak mengherankan apabila mereka berdua hafal benar tempat tempat “pelacuran” di kota ini, Begitulah Ia habiskan malam dengan penuh suka di lorong-lorong hitam tersebut.

Beberapa waktu kemudian Aladin dan Ahmad Salam menuai hasil kegemarannya.Tubuh mereka penuh bintik bintik ,badannya lemah .Setelah didiagnosa ternyata mereka terkena penyakit raja singa “spilis”.Aladin dirawat di rumah sakit,akhirnya meninggal .
Sementara Ahmad Salam, setelah memeriksakan diri ke seorang dukun, dinyatakan sembuh.Setelah dinyatakan sembuh dari penyakit tersebut,kembalilah Dia ke Jakarta untuk meneruskan usaha ayahnya sebagai pemilik toko meubel.Di bawah kepemilikannya usaha tersebut semakin maju.

Suatu malam atas jasa temannya Ahmad Salam bertemu dengan Aisah gadis cantik pada suatu keramaian, Ia sangat terpikat dengan gadis tersebut mujur nasibnya karena cintanya tidak ditolak oleh gadis jelita tersebut.Dengan persetujuan keluarga menikahlah keduanya. Tujuh bulan setelah mengandung,tiba-tiba badan Aisah yang semula sehat berubah menjadi lemah.matanya redup, rambutnya semakin banyak yang rontok.Melihat hal itu Ahmad Salam menjadi gelisah, karena Ia berkeyakinan bahwa penyakit istrinya tersebut akibat dari penyakitnya yang belum lenyap.Ia menyesal mengapa dirinya dahulu hanya mempercayai dukun dalam pengobatan penyakitnya,tidak membawanya ke dokter karena merasa malu aibnya terbongkar.

Pada suatu hari lahirlah anak Aisah dalam keadaan yang memprihatinkan ,bayi tersebut bertubuh kecil serta kering, sedangkan Aisah sendiri menjdi gila.Melihat keadaan demikian banyak yang prihatin.Atas kesabaran kerbatnya serta perawatan dokter yang rutin,akhirnya Aisah sembuh dari penyakitnya, begitu pula Ahmad Salam akhirnya sembuh pula dari penyakitnya.Setelah itu mereka berhati hati dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.

B. KELEMAHAN Novel.
  1. Terlalu membawa ke kehidupan yang nyata.
  2. Ada cerita yang tidak nyambung dengan yang sebenarnya.
C. KELEBIHAN Novel.
  1. Dapat membuat orang yang membaca novel ketagihan karena novel yang bagus.
  2. Dapat memberikan ide-ide yang cemerlang.

Selasa, 09 Agustus 2011

Resensi Novel Sang Pemimpi

RESENSI NOVEL INDONESIA
“SANG PEMIMPI”



1. Identitas Buku
Judul : Sang Pemimpi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Halaman : x + 292 Halaman
Cetakan : ke-14, januari 2008
ISBN: 979-3062-92-4

2. Pratinjau
Luar biasa. Begitulah kesan yang tersirat setelah membaca buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ini. Bagaimana tidak? Alur cerita dan gaya bahasa yang disuguhkannya mampu dikemas begitu apik dari awal hingga akhir. Ditinjau dari segi intrinsiknya, novel ini bisa dibilang hampir tanpa cela. Sebab di setiap peristiwa, Andrea dengan cerdas menggambarkan karakteristik dan deskripsi yang begitu kuat pada tiap karakternya. Sehingga pembaca bisa dengan mudah menafsirkan arah jalan ceritanya. Bahasanya pun sangat memikat, dengan dibumbui ragam kekayaan bahasa dan imajinasi yang luas. Novel ini memiliki kekayaan bahasa sekaligus keteraturan berbahasa Indonesia. Dimulai dari istilah- istilah saintifik, humor metaforis, hingga dialek dan sastra melayu bertebaran di sepanjang halaman. Mulanya, cerita ini lebih bernuansa komikal dengan latar kenakalan remaja pada umumnya. Canda tawa khas siswa SMA sangat kental. Namun lebih dalam menjelajahi setiap makna kata demi kata, terasalah begitu kuat karakter yang muncul di tiap-tiap tokohnya. Terlebih saat Andrea membawa kita ke dalam kenyataan hidup
yang harus dihadapi tokoh Ikal yang mimpinya seakan sudah mencapai titik kemustahilan, dan dengan sensasi filosofis Andrea kembali membangkitkan obor semangat meraih mimpi dan menekankan begitu besarnya kekuatan mimpi Ikal yang akhirnya dapat mengantarkannya ke Sorbonne, kota impiannya.
Selain menggambarkan betapasuperpower-nya kekuatan mimpi, pada
novel ini Andrea juga mencitrakan kebijaksanaan seorang ayah yang begitu besar. Pengorbanan dan ketulusan seorang ayah dalam mendukung mimpi anaknya di tengah keterbatasan hidup menjadikan semangat tak terbeli bagi Ikal dan Arai dalam menggapai impiannya. Disinilah cerita mulai berevolusi menjadi balada yang begitu mengharu biru. Kesabaran seorang ayah dan rasa sayang seorang anak yang luar biasa besarnya kepada sang ayah menyempurnakan novel ini menjadi bacaan yang begitu kolosal dan sarat akan pesan-pesan moril.
Angkat topi untuk Andrea Hirata yang telah berhasil membuat suguhan
kisah yang kental dengan budaya melayu namun sangat cerdas dan
saintifik. Tak hanya bisa membuat seseorang kembali membangun mimpi- mimpinya, novel ini juga bisa menambah rasa hormat kita kepada sang ayah dan mencintainya dengan tulus meskipun di tengah kondisi yang
sangat terbatas.
3. Isi
1) Unsur Intrinsik
  • Tema
Tema yang tersirat dalam novel Sang Pemimpi ini tak lain
adalah “persahabatan dan perjuangan dalam mengarungi
kehidupan serta kepercayaan terhadap kekuatan sebuah mimpi
atau pengharapan”. Hal itu dapat dibuktikan dari penceritaan
per kalimatnya dimana penulis berusaha menggambarkan
begitu besarnya kekuatan mimpi sehingga dapat membawa
seseorang menerjang kerasnya kehidupan dan batas
kemustahilan.
  • Latar
Dalam novel ini disebutkan latarmya yaitu di Pulau Magai
Balitong, los pasar dan dermaga pelabuhan, di gedung bioskop,
di sekolah SMA Negeri Bukan Main, terminal Bogor, dan Pulau
Kalimantan. Waktu yang digunakan pagi, siang, sore, dan
malam. Latar nuansanya lebih berbau melayu dan gejolak
remaja yang diselimuti impian-impian.

  • Penokohan dan Perwatakan
Ikal : baik hati, optimistis, pantang menyerah, penyuka Bang Rhoma
Arai : pintar, penuh inspirasi/ide baru, gigih, rajin, pantang menyerah
Jimbron : polos, gagap bicara, baik, sangat antusias padakuda
Pak Balia : baik, bijaksana, pintar
Pak Mustar : galak, pemarah, berjiwa keras
Ibu Ikal: baik, penuh kasih sayang
Ayah Ikal : pendiam, sabar, penuh kasih sayang, bijaksana
Dan tokoh lain Mahader, A Kiun, Pak Cik Basman, Taikong
Hanim, Capo, Bang Zaitun, Pendeta Geovanny, Mak cik dan
Laksmi adalah tokoh pendukung dalam novel ini.
  • Alur
Dalam novel ini menggunakan alur gabungan (alur maju dan
mundur). Alur maju ketika pengarang menceritakan dari mulai
kecil sampai dewasa dan alur mundur ketika menceritakan
peristiwa waktu kecil pada saat sekarang/dewasa.
  • Gaya Penulisan
Gaya penceritaan novel ini sangat sempurna. Yaitu kecerdasan
kata-kata dan kelembutan bahasa puitis berpadu tanpa ada
unsur repetitif yang membosankan. Setiap katanya
mengandung kekayaan bahasa sekaligus makna apik dibalik
tiap-tiap katanya. Selain itu, Novel ini ditulis dengan gaya realis
bertabur metafora, penyampaian cerita yang cerdas dan
menyentuh, penuh inspirasi dan imajinasi. Komikal dan banyak
mengandung letupan intelegensi yang kuat sehingga pembaca
tanpa disadari masuk dalam kisah dan karakter-karakter yang
ada dalam novel Sang Pemimpi.
  • Amanat
Amanat yang disampaikan dalam Sang Pemimpi ini adalah
jangan berhenti bermimpi. Hal itu sangat jelas pada tiap-tiap
subbabnya. Yang pada prinsipnya manusia tidak akan pernah
bisa untuk lepas dari sebuah mimpi dan keinginan besar dalam
hidupnya. Hal itu secara jelas digambarkan penulis dalam novel
ini dengan maksud memberikan titik terang kepada manusia
yang mempunyai mimpi besar namun terganjal oleh segala
keterbatasan.
  • Sudut Pandang
Sudut pandang novel ini yaitu “orang pertama” (akuan). Dimana
penulis memposisikan dirinya sebagai tokoh Ikal dalam cerita.
2) Unsur Ekstrinsik
  • Nilai Moral
Nilai moral pada novel ini sangat kental. Sifat-sifat yang
tergambar menunjukkan rasa humanis yang terang dalam diri
seorang remaja tanggung dalam menyikapi kerasnya
kehidupan. Di sini, tokoh utama digambarkan sebagai sosok
remaja yang mempunyai perangai yang baik dan rasa setia
kawan yang tinggi.
  • Nilai Sosial
Ditinjau dari nilai sosialnya, novel ini begitu kaya akan nilai
sosial. Hal itu dibuktikan rasa setia kawan yang begitu tinggi
antara tokoh Ikal, Arai, dan Jimbron. Masing-masing saling
mendukung dan membantu antara satu dengan yang lain dalam
mewujudkan impian-impian mereka sekalipun hampir mencapai
batas kemustahilan. Dengan didasari rasa gotong royong yang
tinggi sebagai orang Belitong, dalam keadaan kekurangan pun
masih dapat saling membantu satu sama lain.
  • Nilai Adat istiadat
Nilai adat di sini juga begitu kental terasa. Adat kebiasaan pada
sekolah tradisional yang masih mengharuskan siswanya
mencium tangan kepada gurunya, ataupun mata pencaharian
warga yang sangat keras dan kasar yaitu sebagai kuli tambang
timah tergambar jelas di novel ini. Sehingga menambah
khazanah budaya yang lebih Indonesia.

  • Nilai Agama
Nilai agama pada novel ini juga secara jelas tergambar.
Terutama pada bagian-bagian dimana ketiga tokoh ini belajar
dalam sebuah pondok pesantren. Banyak aturan-aturan
islam dan petuah-petuah Taikong (kyai) yang begitu hormat
mereka patuhi. Hal itu juga yang membuat novel ini begitu kaya.

4. Kelebihan dan Kelemahan


1) Kelebihan
Banyak kelebihan-kelebihan yang didapatkan dalam novel ini. Mulai
dari segi kekayaan bahasa hingga kekuatan alur yang mengajak
pembaca masuk dalam cerita hingga merasakan tiap latar yang
terdeskripsikan secara sempurna. Hal ini tak lepas dari kecerdasan
penulis memainkan imajinasi berfikir yang dituangkan dengan
bahasa-bahasa intelektual yang berkelas. Penulis juga menjelaskan
tiap detail latar yang mem-background-i adegan demi adegan,
sehingga pembaca selalu menantikan dan menerka-nerka setiap hal
yang akan terjadi. Selain itu, kelebihan lain daripada novel ini yaitu
kepandaian Andrea dalam mengeksplorasi karakter-karakter sehingga
kesuksesan pembawaan yang melekat dalam karakter tersebut begitu
kuat.
2) Kelemahan
Pada dasarnya novel ini hampir tiada kelemahan. Hal itu disebabkan
karena penulis dengan cerdas dan apik menggambarkan
keruntutan alur, deskripsi setting, dan eksplorasi kekuatan karakter. Baik ditinjau
dari segi kebahasaan hingga sensasi yang dirasakan pembaca
sepanjang cerita, novel ini dinilai cukup untuk mengobati keinginan
pembaca yang haus akan novel yang bermutu.

5. Sinopsis
Novel Sang Pemimpi menceritakan tentang sebuah kehidupan tiga orang
anak Melayu Belitong yaitu Ikal, Arai, dan Jimbron yang penuh dengan
tantangan, pengorbanan dan lika-liku kehidupan yang memesona sehingga
kita akan percaya akan adanya tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpi
dan kekuasaan Allah. Ikal, Arai, dan Jimbron berjuang demi menuntut ilmu
di SMA Negeri Bukan Main yang jauh dari kampungnya. Mereka tinggal di
salah satu los di pasar kumuh Magai Pulau Belitong bekerja sebagai kuli
ngambat untuk tetap hidup sambil belajar.
Ada Pak Balia yang baik dan bijaksana, beliau seorang Kepala Sekolah
sekaligus mengajar kesusastraan di SMA Negeri Bukan Main, dalam novel
ini juga ada Pak Mustar yang sangat antagonis dan ditakuti siswa, beliau
berubah menjadi galak karena anak lelaki kesayangannya tidak diterima di
SMA yang dirintisnya ini. Sebab NEM anaknya ini kurang 0,25 dari batas
minimal. Bayangkan 0,25 syaratnya 42, NEM anaknya hanya 41,75.
Ikal, Arai, dan Jimbron pernah dihukum oleh Pak Mustar karena telah
menonton film di bioskop dan peraturan ini larangan bagi siswa SMA Negeri
Bukan Main. Pada apel Senin pagi mereka barisnya dipisahkan, dan
mendapat hukuman berakting di lapangan sekolah serta membersihkan
WC.
Ikal dan Arai bertalian darah. Nenek Arai adalah adik kandung kakek Ikal
dari pihak ibu,ketika kelas 1 SD ibu Arai wafat dan ayahmya juga wafat
ketika Arai kelas 3 sehingga di kampung Melayu disebut Simpai Keramat.
Sedangkan Jimbron bicaranya gagap karena dulu bersama ayahnya.

Senin, 08 Agustus 2011

Resensi Novel Sebuah Lorong Di Kotaku

A.    Nilai Intrinsik Novel.

      1.      Karakter.



      2.     Sudut Pandang.
Dalam novel Sebuah lorong dikotaku, pengarang bertindak sebagai orang pertama yaitu menceritakan kehidupannya sendiri.


      3.      Thema.
a.   Setiap kita bertukar pikiran tentang hal itu, pada akhirnya engkau senantiasa berkecil hati-hati seolah-olah malulah engkau, bahwa masuk golongan bumi putera, yang kau sangka aku menghinakannya. (2)
b.   Pusaka yang akan ditinggalkan buat anaknya tidaklah berarti, haruslah anak itu memperoleh ilmu dunia yang setinggi-tingginya buat bekal hidupnya. (10)      

      4.    Gaya Bahasa :
a.    Apalah akan persangkaan orang, bola setiap hari aku datang terdahulu ke tempat bermain ini, sedang datangku itu pun senantiasa ke rumahmu dahulu (1)
b.   Tanangkanlah dahulu darahmu (3)


      5.      Alur (Plot).
a.       Cahaya matahari yang diteduhkan oleh daun-daun di tempat bermain itu, masih keras karena dewasa itu baru pukul tengah lima petang hari. (1)
b.      Di dalam dua Tahun yang sudah terlampaui itu. (93).
      6.      Amanat.
a.       Segala orang harus menerima baik apa yang hendak dilakukan oleh sesama manusia baik atas dirinya sendiri. (1)
b.      Janganlah melupakan adat istiadat negeri sendiri, jikalau ada adat istiadat dari bangsa lain, boleh saja kita menerima tapi harus pandai memilih, yaitu pilihlah adat yang layak dan baik kita terima di negeri kita.


B.     Nilai Ekstrinsik Novel.

      1.      Biografi.
       Nama Nh. Dini merupakan singkatan dari Nurhayati Srihardini. Nh. Dini dilahirkan pada tanggal 29 Februari 1936 di Semarang, Jawa Tengah. Ia adalah anak kelima (bungsu) dari empat bersaudara. Ayahnya, Salyowijoyo, seorang pegawai perusahaan kereta api. Ibunya bernama Kusaminah. Bakat menulisnya tampak sejak berusia sembilan tahun. Pada usia itu ia telah menulis karangan yang berjudul “Merdeka dan Merah Putih”. Tulisan itu dianggap membahayakan Belanda sehingga ayahnya harus berurusan dengan Belanda. Namun, setelah mengetahui penulisnya anak-anak, Belanda mengalah.
Dini bercita-cita menjadi dokter hewan. Namun, ia tidak dapat mewujudkan cita-cita itu karena orang tuanya tidak mampu membiayainya. Ia hanya dapat mencapai pendidikannya sampai sekolah menengah atas jurusan sastra. Ia mengikuti kursus B1 jurusan sejarah (1957). Di samping itu, ia menambah pengetahuan bidang lain, yaitu menari Jawa dan memainkan gamelan. Meskipun demikian, ia lebih berkonsentrasi pada kegiatan menulis. Hasil karyanya yang berupa puisi dan cerpen dimuat dalam majalah Budaya dan Gadjah Mada di Yogyakarta (1952), majalah Mimbar Indonesia, dan lembar kebudayaan Siasat. Pada tahun 1955 ia memenangkan sayembara penulisan naskah sandiwara radio dalam Festival Sandiwara Radio di seluruh Jawa Tengah.

       Kegiatan lain yang dilakukannya ialah mendirikan perkumpulan seni Kuncup Mekar bersama kakaknya.Kegiatannya ialah karawitan dan sandiwara. Nh. Dini juga bekerja, yaitu di RRI Semarang, tetapi tidak lama. Kemudian, ia bekerja di Jakarta sebagai pramugari GIA (1957—1960).
Pada tahun 1960 Dini menikah dengan seorang diplomat Prancis yang bernama Yves Coffin. Ia mengikuti tugas suaminya di Jepang, Prancis, dan Amerika Serikat. Karena bersuamikan orang Prancis, Dini beralih warga negaranya menjadi warga negara Prancis. Dari perkawinannya itu Dini mempunyai dua orang anak, yaitu Marie Claire Lintang dan Louis Padang. Terhadap kedua anaknya itu, Dini memeberi kebebasan budaya yang akan dianut dan bahasa yang akan dipelajari. Untuk mengajarkan budaya Indonesia, Dini menyuruh anaknya mendengarkan musik Indonesia, terutama gamelan Jawa, Bali, dan Sunda serta melatihnya menari.

        Pada tahun 1984 Dini bercerai dengan suaminya. Pada tahun 1985 kembali ke Indonesia dan menjadi warga negara Indonesia. Ia memutuskan kembali ke kampung halamannya dan melanjutkan menulis serta mendirikan taman bacaan anak-anak yang bernama Pondok Baca N.H. Dini yang beralamat di Perumahan Beringin Indah, jalan Angsana No. 9, Blok A-V Ngalian, Semarang 50159, Jawa Tengah.

        Pengalaman menjadi istri diplomat memperkaya pengetahuannya sehingga banyak mempengaruhi karya-karyanya, seperti karyanya yang berlatar kehidupan Jepang, Eropa, dan Amerika.
Sebagai pengarang, Nh. Dini termasuk salah satu pengarang yang kreatif. Banyak karya yang telah ditulisnya, baik itu puisi, cerpen, maupun novel. Karya puisi yang telah ditulisnya ialah “Februari” (1956), “Pesan Ibu” (1956), “Kapal di Pelabuhan Semarang” (1956), “Kematian” (1968), “Berdua” (1958), “Surat Kepada Kawan” (1964), “Bertemu Kembali” (1964), “Dari Jendela” (1966), “Sahabat” (1968), “Kotaku” (1968), “Penggembala” (1968), “Terpendam” (1969), “Pulau yang Ditinggal” (1969), “Bulan di Abad yang Akan Datang” (1969), “Anakku Bertanya” (1969), “Tetangga” (1970), “Kelahiran “ (1970), “Burung Kecil” (1970), “Pagi Bersalju” (1970), “Sesaudara” (1970), “Jam Berdentang” (1970), “Musim Gugur di Hutan” (1970) “Penyapu Jalan di Paris” (1970), “Yang Telah Pergi”(1970), “Rinduku” (1970). “Tak Ada yang Kulupa” (1971), Le havre” (1971), “Paeis yang Kukenal” (1971), “Mimpi” (1971), “Dua yang Pokok” (1971), dan “Kemari Dekatkan Kursimu” (1971).

       Cerita pendek yang ditulisnya terkumpul dalam tiga kumpulan cerita pendek, yaitu Dua Dunia (1956), Tuileries (1982), serta Segi dan Garis (1983). Kumpulan cerpen Dua Dunia terdiri atas tujuh cerpen, yaitu “Dua Dunia”, “Istri Prajurit”, “Djatayu”, “Kelahiran”, “Pendurhaka”, “Perempuan Warung, dan “Penemuan”. Kumpulan cerpen Tuileries terdiri atas dua belas cerpen, yaitu “Tuileries”, “Kucing”, “Pabrik”, “Hari Larut di Kampung Borjuis”, “Kalipasir”, “Jenazah”, “Pencakar Langit”, “Matinya Sebuah Pulau”, “Pasir Hewan”, “Burung Putih”, “Tanah yang Terjanjikan”, dan “Warga Kota”.Kumpulan cerpen Segi dan Garis terdiri atas dua belas cerpen, yaitu “Di Langit di Hati”, “Di Pondok Salju”, “Hujan”, “Ibu Jeantte”, “Janda Muda”, “Kebahagiaan”, “Keluar Tanah Air”, “Pandanaran”, “Penanggung Jawab Candi”, “Perjalanan”, “Sebuah Teluk””, dan “Wanita Siam”. Kumpulan cerpen yang lain ialah Liar (1989) (perubahan judul kumpulan cerpen Dua Dunia) dan Istri Konsul (1989)

        Novel yang telah ditulisnya ialah Dua Dunia, (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Keberangkatan (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Sekayu (1981), Kuncup Berseri (1982), Orang-Orang Trans (1985), Pertemuan Dua hati (1986), Jalan Bandungan (1989), Tirai Menurun (1993), dan Kemayoran (2000).

        Karya lain yang ditulisnya ialah Pangeran dari Negeri Seberang (Biografi penyair Amir Hamzah) (1981), Dongeng dari Galia Jilid I dan II (cerita rakyat Prancis) (1981), Peri Polybotte (cerita rakyat Prancis) (1983), dan Sampar (novel terjemahan dari La Peste karya Albert Camus) (1985).
Penghargaan yang telah diperolehnya ialah hadia kedua untuk cerpennya “Di Pondok Salju” yang dimuat dalam majalah Sastra (1963), hadiah lomba cerpen majalah Femina (1980), dan hadiah kesatu dalam lomba mengarang cerita pendek dalam bahasa Prancis yang diselenggarakan oleh Le Monde dan Radio Frence Internasionale (1987).

      2.      Sinopsis.

Akhirnya ibu mendapatkan sebuah rumah yang menyenangkan. Kami hidup tentram dalam bimbingan ibu yang penuh kelembutan dan ayah yang berwibawa serta bijaksana.
Aku kesepian dan kadang-kadang merasa bosan bermain sendirian, meninggu saudaraku pulang sekolah.
  Suatu hari kami pergi ke rumah di desa, menumpang kereta api dan andong. Karili sangat gembira setelah sampai di rumah kakek. Demikian juga kakek. Tak henti-hentinya kami berbincang-bincang dengan kakek. Ayah pun tak lupa menanyakan keadaan dan kesehatan kakek.
Hari kedua aku diajak Paman Sarosa melihat isi kebun kakek, memetik kelapa, melihat kejernihan air sungai yang mengalir di kebun. Terasa riyaman kehidupan di desa. Terdengar derit tali timba, bunyi hewan, kicau burung, dan udara segar.
Banyak yang kulakukan selama di rumah kakek. Turut menjaga ladang, menghalau burung, ikut memandikan kerbau anak gembala bersama kakakku, Teguh Nugroho.
Dua hari telah berlalu aku harus pulang meninggalkan desa kakek, berpisah dengan paman. Aku merasa sangat sedih.
Di Madiun kami singgah di rumah Pak De dan Bu De. Di rumah ini kegiatan kami selalu diawasi. Bu De selalu hendak serba teratur. Karena itu aku merasa tidak puas.
Karena keadaan perang ibu mempersiapkan banyak makanan. Makanan itu disimpan di atas loteng. Setiap malam banyak tetangga datang ke rumah untuk mendengarkan siaran radio dan mendengar tentang berita perang.
  Aku dijemput Paman Sarosa untuk berlibur selama bulan puasa di tempat kakek. Aku tinggal di rumah kakek bersama Maryam. Aku senang beneman dengan Maryam karena kami mempunyai beberapa persamaan.
Aku mulai sekolah. Semua kakakku sekolah di HIS. Di HIS semua murid harus berbahasa Belaflda. Tapi ayah selalu mewajibkan kami berbahasa Jawa.
Suatu hari ketika aku asyik bermain dengan teman-teman Maryam memaksa pulang karena kami akan mengungsi ke kampung Batan. Kami mengungsi di sini bersama-sama pengungsi lain. Karena ibu tidak mau mengungsi, ayah membuat lubang perlindungan di bawah pohon mangga. Untuk penutupnya digunakan ranting-ranting dan daun. Dindingnya dilapisi beberapa helai kasur. Semua sekolah dan kantor tutup. Kendaraan umum tidak boleh lagi  hilir  mudik.  Kekurarigan  bahan  makanan  mulai  terasa. Indonesia tidak lagi diduduki Belanda, melainkan oleh Jepang. Belanda menyerah kalah kepada Jepang dan seluruh daerah jajahan Belanda jatuh ke tangan Jepang.


      5.    Pengarang.
      NH. DINI.

      6.   Jumlah Halaman.
     107 Halaman.

      7.   Pernah Mendapat Juara atau Tidak.
             Pernah.
     
      8.  Tebal Buku.
     1,3 Cm.

      9.  Penerbit.
     Gramedia.

       10. Judul.
     Sebuah Lorong Di Kotaku.

      11.  Ajaran Moral.
a.   Sedang pekerjaan yang disangka tidak menggangu kesenangan orang lain itu pun boleh jadi akan melanggar kesopanan.(2)
b.   Ditanah Arab perempuan menutup badan sampai ke muka-muka. (2).

      11.  Keunggulan dan Kelemahan.
a.   Keunggulan Novel “Salah Asuhan”.
·     Novel ini menceritakan peraturan adat istiadat yang membuat kita sadar akan pentingnya hal tersebut.
·     Menceritakan kelakuan seorang anak terhadap Orangtuanya yang selalu kasar, hingga pada akhirnya anak itu akan sadar.
b.   Kelemahan Novel “Salah Asuhan”.
·     Teralalu banyak bahasa yang mengandung pengertian dari bahasa lain seperti bahasa belanda.
·     Sangat sulit untuk di simak, ini karena bercampurny bahasa Indonesia dengan bahasa belanda.

      12.  Pesan Dan Kesan.
a.   Pesan.
·      Hormati setiap keputusan yang dilakukan.
·      Hormati orangtua, adat istiadat yang ada pada daerah kita.

b.   Kesan.
·     Novel ini sangat berkesan karena banyak pelajaran yang di beri tentang tata cara pada suatu adat-istiadat.
·     Mari kita menjaga adat-istiadat yang ada pada daerah kita, karena itu adalah peninggalan leluhur kita.

Resensi Novel Salah Asuhan.

Blogadexme | Resensi Novel Salah Asuhan, tugas bahasa indonesia memang paling banyak di kerjakan, setelah beberapa waktu kemarin saya sudah membagi artikel mengenai Resensi Novel HARIMAU-HARIMAU. Berikut adalah beberapa tugas yang akan saya sampaikan yaitu membuat Resensi Novel Salah Asuhan, semoga artikel ini dapat membantu teman-teman sekalian.




RESENSI NOVEL SALAH ASUHAN
A. Nilai Ekstrinsik Novel
  1. Biografi.
Abdoel Moeis adalah seorang pengarang zaulman Balai Pustaka yang berasal dari daerah Minangkabau. Ayahnya orang Minang dan ibunya orang Sunda. Ia adalah seorang pejuang kebangsaan Indonesia yang sezaman dengan H.O.S Cokroaminoto dan Ki Hajar Dewantara. Sebagi seorang perintis kemerdekaan, ia mulai menerjuni lapangan politik sejak tahun 1920 sebagai anggota Indieak Werbar, kemudian menjadi pemimpin Serikat Islam dan menjadi anggota Volksraad.
Setelah menyelesaikan pelajarannya di sekolah rendah Belanda di Bukit tinggi ia melanjutkan pelajaran di Stovia, tetapi tidak sampai selesai. Kemudian, ia mejadi wartawan di Bandung.
Abdoel Moeis lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 - wafat di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun.
Dengan mengetengahkan tokoh Hanafi danlam roman Salah Asuhan, Abdoel Moeis mengkritik sikap dan tingkah laku kaum borjuis yang kebarat-baratan dan lupa daratan. Dalam roman tersebut soal adat masih disinggung-singgungnya, bahkan di kritiknya tajam sekali. Beberapa karyanya berupa roman adalah Surapati, Robert anak Surapati dan Pertemuan Jodoh.
2. Sinopsis.
Hanafi, laki-laki muda asli Minangkabau, berpendidikan tinggi dan berpandangan kebarat-baratan. Bahkan ia cenderung memandang rendah bangsanya sendiri. Dari kecil Hanafi berteman dengan Corrie du Bussee, gadis Indo-Belanda yang amat cantik parasnya, lincah dan menjadi dambaan setiap pria yang mengenalnya. Karena selalu bersama-sama mereka pun saling mencintai. Setiap hari mereka berdua bermain tenis. Tapi cinta mereka tidak dapat disatukan karena perbadaan bangsa. Jika orang Bumiputera menikah dengan keturunan Belanda maka mereka akan dijauhi oleh para sahabatnya dan orang lain. Untuk itu Corrie pun meninggalkan Minangkabau dan pergi ke Betawi agar hilanglah perasaan Corrie kepada Hanafi. Perpindahan itu sengaja ia lakukan untuk menghindar dari Hanafi dan sekaligus untuk meneruskan sekolahnya di sana.(Selengkapnya Download File nya DI SINI).
B. Nilai Intrinsik Novel
1. Karakter.
a. Corrie.
· Baik.
"O, sigaret tante boleh habiskan satu dos. Sudah tentu enak, ayoh coba!" (164).
· Mudah Bergaul.
"Oh, ruangan di jantung tuan Hanafi amat luas," kata Corrie sambil tertawa, "buat dua tiga orang perempuan saja masih berlapang-lapang." (7)
b. Hanafi.
· Keras Kepala.
"Memang….kasihan! Ah ibuku…aku pengecut tapi hidupku kosong…habis cita-cita baik…enyah!." (259).
· Kasar.
" Hai Buyung! Antarkan anak itu dahulu kebelakang!" kata Hanafi dengan suara bengis dari jauh." (80).
c. Rapiah.
· Sabar.
"Rapiah tunduk, tidak menyahut, airmatanya saja berhamburan. Syafei, dalam dukungan ibunya yang tadinya menangis keras, \ lalu mengganti tangisnya dengan beriba-iba. Seakan-akan tahulah anak kecil itu, bahwa ibunya yang tdak berdaya, sedang menempuh azab dunia dan menanggung aib di muka-muka orang." (83).
· Baik.
"Apakah ayahmu orang baik? Uah sungguh-sungguh orang baik. Kata ibuku tidak adalah orang yang sebaik ayahku itu." (238).
d. Ibu Hanafi.
· Sabar.
"Astagfirullah, Hanafi! Turutilah ibumu mengucap menyebut nama Allah bagimu dan tidak akan bertutur lagi dengan sejauh itu tersesatnya" (85)
· Baik.
"Sekarang sudah setengah tujuh, sudah jauh terlampau waktu berbuka, Piah! Sebaik-baiknya hendaklah engkau pergi makan dahulu." (119).
e. Nyonya Brom.
· Baik
"Ah, ah! Burung merpati dua sejoli!". (6)
· Sopan.
"Ah, ah! Burung merpati dua sejoli!" kata nyonya Brom dari jauh sambil tertawa dan mengacu-acukan raketnya kepada anak muda itu. (6)
f. Tuan Brom.
· Puitis.
Sepadan benar dengan Corrie perbandingan nyonya dengan merpati itu. (6).
· Baik.
Karena kelihatan olehnya Tuan dan Nyonya Brom, administrator Afdelingsbank, bersama-sama datang menuju ke tempat bermain tenis itu. (6)
g. Tuan Du Bussee.
· Tegas.
"Tapi Corrie mesti bersekolah yang sepatut-patutnya" (10).
h. Nyonya Samati (Istri Tuan Du Bussee yang sudah meniggal, dia adalah seorang perempuan Bumiputra) (9).
i. Simin. (13)
· Penurut.
"Simin!" Kata corrie, dengan suara keras dan nyaring.
"Saya, Non!". "Minta es…sama sirop asam..ohh, tidak sirop fanila saja.."
Sejurus lagi, "Simin, ah mint air Belanda saja!" (13).
· Baik.
Dengan tergopoh-gopoh Simin mengeluarkan es dari Petinya. (13).
j. Si Buyung.
· Penurut.
"engkau kugaji buat kesenanganku dan bukan buat bermalas-malas. Hamba disuruh kejalan. Diam! Bawa anak itu ke belakang. Angkat teh ke kebun. Sibuyung menolak kereta itu sampai ke dapur, lalu menceritakan apa yang diperintahkan kepadanya. Oleh karena gula habis' terpaksalah ia disuruh ke toko yang tidak berapa jauh letaknya dari rumah." (80)
k. Syafei.
· Berani.
"Itulah yang kusukai, bu. Sekian musuh nanti kusembelih dengan pedangku." (196).
l. Nyonya Bergen. (Guru Sekolah) (7)
m. Nyonyo Pension.
· Penyayang.
Tapi setiap kali nyonya itu berkata dengan sedih, bahwa Hanafi harus menaruh sabar, bahwa belum terbuka baginya jalan bagi Corrie.
· Baik.
Dengan tertip dan sopan, Hanafi dipersilahkan duduk bersama-sama. (200)
n. Piet.
· Baik.
Didalam sebuah genggamannya ada sebuah botol kecil dan setelah ia menuangkan air dingin dari dalam karaf yang ada di atas cuci muka, maka dibukanya kelambu, lalu berkata : "Minumlah aspirin, Han!". (203)
o. Zuster.
· Penolong.
Bercururan air matanya kepada zuster, supaya zuster menyampaikan permintaan dari dokter. (220)
p. Nyonya Van Dammen.
· Baik.
Demikain nama nyonnya tua yang memelihara rumah tumpangan anak-anak piatu itu, terkejut melihat kedatangan Hanafi pada malam hari. (217)
q. Nyonya Hansen.
· Sopan.
Saya datang dari betawi; dari nyonya Hansen, yang pegang pension rumah tumpangan bangsa perempuan. (218)
2. Sudut Pandang.
Dalam novel Salah Asuhan, pengarang bertindak sebagai orang ketiga yaitu menceritakan kehidupan tokoh-tokoh pada novel. (Selengkapnya Download File nya DI SINI).

Nb : Resensi Novel Salah Asuhan ini belum lengkap saya posting, namun ini adalah gambaran sedikit dari apa yang saya kerjakan. Jika kamu ingin memiliki Resensi nya lebih lengkap, Download File nya DI SINI. Thanks!

Rabu, 03 Agustus 2011

Resensi Novel HARIMAU-HARIMAU

Blogadexme | Resensi Novel HARIMAU-HARIMAU, tugas bahasa indonesia memang paling banyak di kerjakan, setelah beberapa waktu kemarin saya sudah membagi artikel mengenai Resensi Novel Salah Asuhan. Berikut adalah beberapa tugas yang akan saya sampaikan yaitu membuat Resensi Novel HARIMAU-HARIMAU, semoga artikel ini dapat membantu teman-teman sekalian.





RESENSI NOVEL HARIMAU-HARIMAU
A. Nilai Ekstrinsik
1. Judul.
Harimau! Harimau!
2. Penulis.
Mochtar Lubis
3. Penerbit.
Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
4. Jumlah Halaman.
Terdiri dari 214 Halaman dan tebal buku 17 inch.
5. Pernah mendapat hadiah.
Yayasan Buku Utama sebagai buku penulis sastra terbaik di tahun 1975.

Biografi Mochtar Lubis.
Mochtar Lubis (lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922 - meninggal di Jakarta, 2 Juli 2004 pada umur 82 tahun) adalah seorang jurnalis dan pengarang ternama asal Indonesia. Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit. Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya. Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Pemikirannya selama di penjara, ia tuangkan dalam buku Catatan Subversif (1980).
Pernah menjadi Presiden Press Foundation of Asia, anggota Dewan Pimpinan International Association for Cultural Freedom (organisasi CIA), dan anggota World Futures Studies Federation.
Novelnya, Jalan Tak Ada Ujung (1952 diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh A.H. John menjadi A Road With No End, London, 1968), mendapat Hadiah Sastra BMKN 1952; cerpennya Musim Gugur menggondol hadiah majalah Kisah tahun 1953; kumpulan cerpennya Perempuan (1956) mendapatkan Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-1956; novelnya, Harimau! Harimau! (1975), meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departeman P & K; dan novelnya Maut dan Cinta (1977) meraih Hadiah Sastra Yayasan Jaya Raya tahun 1979. Selain itu, Mochtar juga menerima Anugerah Sastra Chairil Anwar (1992). .(Selengkapnya Download File nya DI SINI).
A. Nilai Intrinsik


Tema.
Dalam novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis ini dapat disimpulkan bahwa tema yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah kepemimpinan, yaitu mengenai kebobrokan dalam sifat seorang pemimpin. Dalam novel ini terdapat seorang tokoh antagonis bernama Wak Katok yuang selalu dimitoskan oleh pengikutnya, enam orang pencari damar, ketika mencari damar di hutan sebagai seorang yang dihormati, disegani, dan sakti. Pemitosan ini dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini.

" Wak Katok dihormati, disegani, dan malahan agak ditakuti, karena termashur ahli pencak silat dan mahir sebagai dukun.... Diceritakan orang, sewaktu dia masih muda di pernah berpencak melawan seekor beruang dan mengalahkannya. Tentang ilmu sihirnya... orang hanya berani berbisik-bisik saja tentang ini. Kata orang dia dapat bertemu dengan hantu dan jin. (halaman 5).

Menurut cerita orang, jika bersilat, Wak Katok dapat membunuh lawannya, tanpa tangan, kaki, atau pisau mengenai lawannya. Cukup dengan gerakan tangan atau kaki saja yang ditujukan ke arah kepala, perut atau ulu hati (halaman 9).
Oleh karena selalu dimitoskan orang, sosok Wak Katok sudah tidak dapat diganggu gugat lagi sebagai pemimpin yang berwibawa. Ia memiliki segala kriteria untuk menjadi pemimpin, yaitu kekuatan, wibawa, dan satu lagi mitos. Mitos bahwa ia memang seorang pemimpin yang mumpuni seperti terlihat dalam kutipan di atas yang banyak menggunakan kata kata orang dan diceritakan. Msyarakat tak pernah dengan benar-benar melihat secara nyata apa yang diceritakan kepadanya mengenai sosok Wak Katok tersebut, tetapi mereka mempercayai cerita itu.

Namun, ketika masalah mulai muncul, yaitu saat seekor harimau tua "memburu" mereka ketika dalam perjalanan pulang dari mengumpulkan damar di hutan, mulai nampak oleh para pendamar, pengikut wak Katok akan kejanggalan-kejanggalan pemitosan terhadap Wak Katok. Seperti pada kutipan di bawah ini.

Sanip berjalan dengan diam.... hatinya gundah gulana.... Apa yang dapat mereka lakukan berempat dengan sebuah senapan tua Wak Katok? Meskipun hatinya agak terobati, karena diberi jimat baru oleh Wak Katok, akan tetapi keraguannya belum hilang. Tidakkah Pak Balam memakai jimat, juga Talib dan Sutan? Dan bukankah mereka juga diserang sampai mati? Tetapi dia mendiamkan bisikan hatinya yang tak percaya, karena ini lebih membesarkan kerusuhan hatinya (halaman 171). .(Selengkapnya Download File nya DI SINI).

Nb : Resensi Novel Harimau harimau ini belum lengkap saya posting, namun ini adalah gambaran sedikit dari apa yang saya kerjakan. Jika kamu ingin memiliki Resensi nya lebih lengkap, Download File nya DI SINI. Thanks!