Baca Selengkapnya . . .
ExitJangan Lupa Klik Like/Suka!
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 November 2011

Keren ! , Galaksi Nebula Kepala Kuda

Nebula Kepala Kuda (dikenal juga sebagai Barnard 33) adalah Nebula yang gelap (dark) yang sekumpulan dengan bintang Orion. Jauhnya dari Bumi kira-kira 1.500 tahun cahaya. Nebula ini adalah Nebula yang paling mudah didentifikasi karena bentuk awan debu dan gasnya mirip kepala kuda. Nebula ini ditemukan oleh William Fleming pada tahun 1888.












Sumber :
vivanews.com

Rabu, 09 November 2011

Gedung Putih Buat Pernyataan Soal Alien







Gedung Putih mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa
tidak ada bukti kuat soal makhluk luar angkasa (ET) atau alien pernah
melakukan kontak dengan manusia. Pernyataan itu merupakan tanggapan
resmi Amerika Serikat (AS) menyusul dua petisi yang muncul di laman
Gedung Putih "We The People".





Laman tersebut dimaksudkan untuk
menyuarakan inisiatif dan keluhan warga AS melalui petisi terhadap
presiden dan Pemerintah AS dan akan direspons bila cukup banyak warga
yang menandatanganinya. Dua petisi soal alien berhasil mengumpulkan
sebanyak 17.000 tanda tangan. Kedua petisi itu adalah "Segera ungkapkan
pengetahuan pemerintah soal makhluk luar angkasa dan komunikasi
pemerintah dengan mereka" dan "Secara resmi buat pernyataan mengenai
kehadiran makhluk luar angkasa yang berhubungan dengan manusia -
Pengungkapan Rahasia".





"Pemerintah AS tidak memiliki bukti bahwa
ada kehidupan di luar bumi, atau ada makhluk luar angkasa yang melakukan
kontak atau berhubungan dengan umat manusia," kata pejabat senior
divisi kebijakan dan komunikasi Gedung Putih, Phil Larson, dalam
pernyataannya.





Selain itu, kata Larson, tidak ada informasi yang
kredibel yang menunjukkan bahwa ada bukti yang tersembunyi dari mata
publik. Meskipun begitu, Larson mengatakan tidak menutup kemungkinan
kehidupan di luar angkasa dibahas dan dieksplorasi, termasuk beberapa
proyek NASA. Bahkan, tidak mengesampingkan bahwa hal itu memang benar
adanya.





"Banyak ilmuwan dan ahli matematika sampai pada kesimpulan
bahwa ada kemungkinan yang cukup tinggi di suatu tempat di antara
triliunan bintang di alam semesta ada planet lain selain bumi tempat
kita hidup," tambah Larson. 








Sumber :


kompas.com

Selasa, 08 November 2011

Mungkin Saja Manusia Bisa Tinggal di Bintang


Manusia mungkin saja tinggal di sebuah bintang. Astronom baru saja
menemukan sebuah bintang yang suhunya cocok ditinggali manusia. Bintang
tersebut bernama WD 0806-661 B.



Associate Professor for Astronomy and Astrophysics Pennsylvania State
University, Kevin Luhman, yang menemukan bintang tersebut mengatakan,
"Ini adalah bintang yang sangat kecil dengan atmosfer sedingin
temperatur Bumi."






http://assets.kompas.com/data/photo/2011/10/24/0809296620X310.jpg





Massa bintang tersebut hanya 6-9 kali massa Jupiter. Bahkan, bintang
tersebut telah dinobatkan sebagai bintang terdingin di luar Tata Surya
yang pernah ditemukan. Luhman mengatakan, bintang tersebut tergolong
dalam jenis bintang katai coklat.



Seperti bintang lain, WD 0806-661 B juga terbentuk dari awan debu dan
gas. Temperatur bintang bisa dingin. Sebab, dalam proses pembentukannya,
bintang gagal mengakumulasikan massa dari awan debu sehingga reaksi
termonuklir tak terjadi. Temperatur bintang diperkirakan cuma 27-80
derajat celsius.



WD 0806-661 B mengorbit bintang katai putih. Jarak antara WD 0806-661 B
dan bintang katai putih yang diorbit adalah 2.500 kali jarak Bumi
Matahari.



Untuk bisa menentukan apakah bintang ini layak ditinggali, pastinya
masih butuh banyak penelitian. Namun, bintang katai putih terletak cukup
dekat dari Tata Surya, hanya 63 tahun cahaya, jadi lebih "terjangkau".



WD 0806-661 B ditemukan dengan teleskop antariksa Spitzer milik NASA.
Hasil penelitian dipublikasikan dalam Astrophosical Journal. WD 0806-661
B sendiri telah dikonfirmasi sebagai bintang terdingin.

 


Sumber :
kompas.com

Bintik Misterius di Planet Uranus


Kebanyakan orang berpikir bahwa Uranus adalah planet yang tidak menarik.
Planet yang memiliki kandungan air, metana, dan amonia dalam bentuk es
dan sering disebut sebagai "es raksasa" ini kalah populer dibanding
Mars, Jupiter, atau bahkan Pluto yang sudah mantan planet.



Namun, penemuan ahli keplanetan Larry Sromovsky membuat banyak orang
bertanya-tanya. Sromovsky dengan teleskop Gemini 8,1 meter menemukan
adanya bintik aneh di Uranus. Bercak serupa awan itu diduga merupakan
erupsi es metana yang membumbung ke atmosfer Uranus.






http://assets.kompas.com/data/photo/2011/10/31/1639544620X310.jpg





Heidi B Hammel, pakar ilmu keplanetan lain yang juga terlibat
penelitian, menggunakan Facebook untuk mengumumkan hasil penemuannya. Ia
mengajak orang, termasuk astronom amatir, untuk mengobservasi bintik
itu lebih lanjut. Jika informasi telah cukup, maka pengamatan dengan
teleksop Hubble akan dilakukan.



Hammel menjelaskan, "Alasan kita peduli pada 'awan' di planet Uranus sebabnya ialah sepertinya fenomena itu bersifat musiman."



Ia menjelaskan, Uranus berputar miring pada sisinya sehingga memberi
perubahan cahaya matahari ekstrem ketika musim berubah. Perubahan yang
terjadi bahkan lebih dramatis daripada yang ada di planet lain.



"Uranus memberi kita wawasan tentang keseimbangan energi di atmosfer
suatu planet," tambah Hammel seperti dikutip Discovery, Jumat
(28/10/2011).



Ektremnya perubahan musim terbukti dari lamanya tiap-tiap area Uranus
mendapat sinar Matahari. Selama 84 tahun revolusi (berdasarkan waktu
Bumi), belahan utara Uranus menerima cahaya secara terus-menerus,
sementara selama 42 tahun juga, belahan selatan Uranus gelap total.



Tidak tahu apakah para astronom amatir bisa memecahkan misteri ini
karena keterbatasan peralatan. Namun yang jelas, Uranus kini juga bisa
menjadi salah satu obyek yang bisa diteliti.


 


Sumber :

kompas.com

Selasa, 01 November 2011

Wah, Ada Bumi Baru Terbentuk


elah ditemukan bumi selain milik kita oleh para peneliti. Kabarnya,
Herschel Space Obervatory (HSO) baru saja mendapat gambar ‘cakram’
raksasa uap es pertama di gugus bintang muda. Gambar ini memberi
petunjuk adanya Bumi lain.



Dalam observasi tersebut, terlihat air di sekitar bintang ini meluas
hingga ‘ujung’ tata suryanya dan air yang ada cenderung menjadi komet es
yang akan menabrak dunia muda dan membawa lautan bersamanya. Temuan ini
menunjukkan, planet tertutup air seperti Bumi merupakan hal biasa.











“Penelitian kami menunjukkan, ada cukup air dalam cakram untuk mengisi
ribuan lautan Bumi,” kata astronom Michiel Hogerheijde dari Leiden
Observatory di Belanda. Sinar ultraviolet dari bintang terdekat membuat
molekul air bebas dari es dan menciptakan lapisan tipis gas.

Bintang
TW Hydrae yang berusia 10 juta tahun ini terletak 175 tahun cahaya dari
Bumi di rasi bintang Hydra. Cakram raksasa yang mengelilingi bintang
ini memiliki ukuran hampir 200 kali jarak antara Bumi dan Matahari.

Selama
beberapa ribu tahun mendatang, para astronom yakin materi dalam cakram
ini akan bertabrakan dan menjadi planet, asteroid dan bentuk kosmik
lainnya. Astronom yakin, TW Hydrae dan cakram esnya mewakili banyak
sistem bintang muda lain yang memberi pengetahuan cara planet kaya air
terbentuk di seluruh semesta.



Nah, kalau benar ini terjadi, berarti bakal ada calon bumi baru. Bagaimana dengan kehidupan di atasnya? Wallahu 'alam Bishowab.


 


sumber: 


yasirmaster

Kamis, 08 September 2011

Tidak Ada Kiamat di Tahun 2012


Sepertinya banyak juga ya penggemar kiamat 2012. Ada apa sebenarnya, sehingga manusia sangat tertarik dan percaya dengan mudah pada isu-isu seperti ini?




Katanya, dunia akan berakhir pada tanggal 21 Desember 2012! Runutan
angka yang menarik yang membuat Anda langsung terperangah dan menggumam,
“Ah benar juga … pasti bener nih beritanya”. Lantas, tanpa telaah
lanjut, Anda pun berkata kiamat tinggal 3 tahun lagi. Atau kalau Anda
tak percaya teori kiamat, Anda langsung berkomentar, “Cuma Tuhan yang
tahu kapan kiamat”, “Ah kamu musyrik …”, atau “Itu info disebarkan oleh
orang tak beragama”.  Sekali lagi, semua informasi hanya ditelan tanpa
ditelaah.









Nah, karena dunia akan kiamat sebentar lagi, berhentilah merencanakan
hidup, karier Anda, tak usah lagi berpikir untuk punya rumah, segeralah
menikah sebelum kiamat, dan pastikan Anda bisa bersenang-senang
menikmati hidup sebelum kiamat. Atau, segeralah bertobat. Jangan sampai
saat kiamat Anda malah belum bertobat. Tiga tahun lagi lho!.






Kata sebagian orang, mungkin ini pembahasan yang aneh. Hampir setiap
saat kita mendengar tentang berbagai teori kiamat, dan kenyataannya
kita masih ada di sini. Belum ada satu teori pun yang kebenarannya
terbukti. Tapi, kenapa 2012 begitu penting?






Katanya, kalender Maya akan berhenti tahun 2012, dan kemudian jadi
semacam agama dan kepercayaan baru, mengalahkan kepercayaan yang ada di
masyarakat. Mengabaikan semua alasan saintifik dan pada akhirnya membawa
masyarakat pada kekhawatiran baru. Lupakan Nostradamus, Y2k, dan semua
prediksi kiamat lainnya, karena sekali lagi menurut ramalan 2012, planet
X akan kembali dan menghancurkan Bumi.






Kita berhenti dulu di sini dan mari kita telaah setiap alasan
yang muncul tentang kiamat 2012 ini. Dan bagi Anda para penggemar nubuat
Kalender Maya, saya punya berita buruk untuk Anda semua. Tidak akan ada
kiamat di tahun 2012, dan ini alasannya, silakan disimak.








Kalender Maya







Kalender Maya


Apa itu kalender Maya? Ini merupakan kalender yang disusun oleh
sebuah peradaban yang dikenal dengan nama Maya pada kisaran 250-900 M.
Bukti kehadiran peradaban Suku Maya ini bisa dilihat dari sisa
kerajaannya di hampir semua bagian selatan Meksiko, Guatemala, Belize,
El Savador, dan sebagian Honduras.






Dari bukti-bukti sejarah, masyarakat suku Maya memang memiliki
kemampuan menulis yang baik dan juga kemampuan untuk membangun kota dan
perencanaan kota. Dalam hal membangun, Suku Maya terkenal dengan
bangunan piramida dan berbagai bangunan besar lainnya. Tak hanya itu,
dalam kebudayaan, peradaban suku Maya memberi pengaruh yang sangat besar
pada kebudayaan Amerika Tengah. Pengaruh itu bukan hanya dalam hal
peradaban namun juga dalam hal populasi pribumi di area tersebut. Sampai
saat ini, sejumlah Suku Maya masih tetap ada dan meneruskan tradisi
mereka yang telah berumur ribuan tahun itu.






Suku Maya dalam kehidupannya menggunakan beberapa kalender berbeda.
Bagi mereka, waktu merupakan penghubung dengan lingkaran spiritual.
Kalender memang digunakan untuk hal-hal praktis seperti untuk kehidupan
sosial, pertanian, perdagangan dan berbagai keperluan administratif.
Namun dipercaya ada elemen religi yang besar di dalamnya yang memberi
pengaruh. Bagi suku Maya, setiap hari memiliki ruh pelindung yang
berbeda sehingga setiap hari memiliki fungsi yang berbeda pula.





Sangat
berbeda dengan kehidupan modern dengan kalender Gregorian yang hanya
menetapkan kalender sebagai waktu yang terkait dengan hal-hal
administratif, kehidupan sosial dan keperluan ekonomi.






Kebanyakan kalender Maya memiliki rentang waktu pendek.



  • Kalender Tzolk’in berakhir dalam 260 hari

  • Kalender Haab’ memberi perkiraan 1 tahun Matahari yakni 365 hari.




Suku Maya kemudian menggabungkan kedua kalender ini membentuk “Calendar Round”, siklus yang akan berakhir setelah 52 Haab (sekitar 52 tahun atau kisaran panjangnya satu generasi). Di dalam “Calendar round” terdapat Trecena ( siklus 13 hari) dan Veintena (siklus 20 hari). Tampaknya, sistem siklus ini berlaku dengan mempertimbangkan jumlah hari dalam 52 tahun adalah 18980 hari.






Untuk bangsa Maya, sains dan agama adalah satu. Mereka membangun
sistem matematika dan astronomi yang cukup impresif, terkait dengan
kepercayaan mereka. Pencapaian dalam hal matematika bisa dilihat pada
notasi posisi dan penggunaan angka nol. Dalam astronomi, mereka secara
akurat menghitung tahun Matahari, melakukan kompilasi tabel posisi bulan
dan Venus, serta memprediksi Gerhana Matahari. Suku Maya juga memiliki
penanggalan untuk “siklus Venus” yang cukup akurat. 





Kalender Venus ini
dibuat berdasarkan lokasi Venus di langit malam. Hal yang sama tampaknya
juga dilakukan pada planet-planet lainnya.






Sistem “Calendar Round” ini memang sangat baik untuk
mengingat hari kelahiran atau periode keagamaan. Namun, untuk merekam
sejarah, kalender ini tak bisa dijadikan patokan karena tak dapat
merekam kejadian yang lebih tua dari 52 tahun.








Akhir Perhitungan Panajang = Akhir Dunia?







Alam semesta menurut suku Maya


Karena tak bisa merekam kejadian sejarah yang lebih tua dari 52
tahun, Suku Maya punya solusi lain. Dengan metode yang cukup inovatif,
mereka bisa memperluas jangkauan “Calendar Round” yang tadinya cuma 52 tahun itu.






Sampai di titik ini, kalender Maya akan tampak sangat kuno, bahkan
bisa dikatakan dibuat hanya berdasarkan kepercayaan religi, siklus
bulan, kalkulasi matematika dengan siklus atau unit 13 dan 20 sebagai
dasar perhitungan disertai campuran kepercayaan mitologi. Satu-satunya
prinsip kalender yang memiliki korelasi dengan kalender modern hanyalah
Haab yang mengenali panjang tahun Matahari yakni 365 hari. Sebagai
jawaban atas penanggalan yang lebih panjang, Suku Maya membuat sistem
penanggalan “Long Count” atau “Perhitungan Panjang”, kalender yang akan berakhir setelah 5126 tahun.






Sistem penanggalan Maya untuk “Long Count” ini memang
menarik, dan secara numerik dapat diprediksi dan bisa dengan akurat
menunjuk pada penanggalan dalam sejarah. Penanggalan ini bergantung pada
basik perhitungan dengan unit 20. Kalender modern saat ini menggunakan
dasar perhitungan dengan unit 10.









Nah bagaimana perhitungannya?






Tahun dalam “Long Count” kalender Maya, dimulai dari
0.0.0.0.0. Tiap angka 0 merepresentasikan angka 0-19, dan setiap angka
merepresentasikan perhitungan hari-hari suku Maya.






Untuk hari pertama, kalendernya akan seperti ini : 0.0.0.0.1 dan pada
hari ke-19 akan menjadi 0.0.0.0.19. Jika mencapai angka 20, kalendernya
akan jadi : 0.0.0.1.0. Perhitungan ini akan menunjukkan 0.0.1.0.0 untuk
satu tahun dan 0.1.0.0.0 untuk kisaran 20 tahun dan 1.0.0.0.0 utuk
kisaran 400 tahun. Maka, penanggalan 2.10.12.7.1 akan melambangkan
penanggalan untuk hari ke-1 di bulan ke-7 dan tahun 1012.









Lantas, apa hubungannya dengan akhir dunia?






Suku Maya sangat terobsesi dengan waktu. Pemahaman dan prediksi
berbagai siklus waktu akan memberi mereka kemampuan untuk
mengadaptasinya dalam kehidupan di dunia. Menurut kosmologi bangsa Maya,
dunia ini telah diciptakan 5 kali dan dihancurkan 4 kali. Dalam skala
yang sementara, berbagai hari di dalam satu tahun dianggap cocok untuk
aktivitas tertentu, sedangkan sebagian lainnya merupakan
ketidakberuntungan.






Nah, menurut kepercayaan suku Maya, sesuatu yang buruk akan terjadi jika kalender “Long Count”
berakhir. Berbagai pembagian dilakukan para ahli, namun karena suku
Maya mendasarkan perhitungan numerik pada siklus 13 dan 20, maka bisa
jadi hari terakhir kalender mereka adalah 13.0.0.0.0.





Kapankah itu?
Angka 13.0.0.0.0 merepresentasikan 5126 tahun dan “Long Count” ini berawal pada 0.0.0.0.0 yakni 11 Agustus 3114 SM menurut penanggalan Gregorian.






Nah, dengan demikian, kalender Maya akan berakhir 5126 tahun
kemudian, yakni 21 Desember 2012. Inilah yang jadi dasar pemikiran
tentang kiamat di tahun 2012.








Akhir Dunia







Ilustrasi tabrakan yang terjadi




Sepertinya, saat sesuatu itu berakhir, termasuk ketika perhitungan
kalender kuno berakhir, masyarakat cenderung berpikir pada kemungkinan
ekstrem bahwa peradaban juga akan ikut berakhir. Entah dengan cara apa
dunia akan berakhir. Berbagai argumentasi bermunculan, antara lain Bumi
akan ditabrak oleh sebuah planet, asteroid, atau entah bencana apalagi.
Intinya, jika kalender ini berakhir maka Bumi akan tersapu dan hancur.






Ahli arkeologi dan juga orang-orang yang keahliannya pada hal
mitologi percaya bahwa akan ada era pencerahan yang muncul jika
13.0.0.0.0 tiba. Dan ini juga tidak berarti akan kiamat atau apa pun.
Tidak ada bukti yang menunjukkan dunia akan berakhir. Bahkan, jika
memang ada, maka suku Maya bisa dikatakan berhasil memprediksikan sebuah
keajaiban religius.






Mitos terus berkembang, bahkan film Indiana Jones and the Kingdom of Crystal Skull sepertinya dibuat berdasarkan mitos suku Maya. Dikatakan, 13 tengkorak
kristal akan dapat menyelamatkan kemanusiaan dari kiamat. Mitos di film
ini mengatakan jika ke-13 tengkorak kuno ini tidak diletakkan bersama
pada waktu tertentu, Bumi akan bergeser dari sumbunya. Menarik memang
untuk sebuah film, bisa meraih penontonnya yang mudah percaya pada mitos.





Tak hanya itu. Mitos yang berkembang mengatakan bahwa Bumi akan
dihancurkan oleh tabrakan Planet X, tabrakan meteorit, dihisap lubang
hitam, dibunuh oleh flare Matahari, Bumi hancur oleh ledakan sinar gamma
dari sistem bintang, datangnya zaman es yang lebih cepat dan pergeseran
kutub magnet. Bahkan setiap prediksi disertai bukti-buktinya sendiri.
Dan pada akhirnya begitu banyak pengikut kiamat 2012 ini. Sayangnya tak
satu pun argumentasi yang diberikan itu bisa dibuktikan kebenarannya.






Fakta yang ada menyatakan Nubuat Kiamat Suku Maya murni berdasarkan
kalender yang memang tidak didesain untuk menghitung penanggalan setelah
2012. Hal ini disebabkan karena suku Maya mendasarkan perhitungan pada
siklus 13 dan 20.






Arkeo-astronom Maya bahkan masih memperdebatkan masalah kalender “Long Count
ini. Pertanyaannya, apakah kalender ini akan kembali ke 0.0.0.0.0
setelah 13.0.0.0.0 atau akan terus berlanjut sampai 20.0.0.0.0 (sekitar
8000M) dan kemudian kembali ke 0.0.0.0.0?



Mengutip kata-kata Karl Kruszelnicki dalam “Great Moments in Science“:



“ … ketika Kalender mengakhiri siklusnya, ia akan
berputar kembali ke siklus berikutnya. Dalam masyarakat modern, setiap
tanggal 31 Desember tidak diakhiri dengan akhir dunia, namun dilanjutkan
oleh siklus berikut yakni 1 Januari. Karena itu, 13.0.0.0.0 dalam
kalender Maya akan diikuti oleh 0.0.0.0.1 atau 22 desember 2012, yang
hanya menyisakan beberapa hari untuk berbelanja keperluan Natal.”



Siklus kalender Maya boleh berakhir, namun siklus baru akan kembali berulang dan membawa hari baru bagi penghuni Bumi.








SUmber :


Rabu, 07 September 2011

Space Elevator, Proyek Bangunan Tertinggi Di Seluruh Alam Semesta


Space Elevator atau dalam bahasa indonesia Lift luar angkasa adalah
lift yang didesain untuk mengirim material dari permukaan bumi ke luar
angkasa melibatkan perjalanan melalui struktur dan bukan dengan
menggunakan roket. Konsepnya seringkali mengacu pada struktur yang
menjangkau orbit geostasioner sekitar 35.786 km dari permukaan bumi.










Konsep lift luar angkasa berawal dari ide seorang ilmuwan Rusia
Konstantin Tsiolkovsky, yang pada tahun 1985 mengajukan struktur
kompresi atau yang disebut Menara Tsiolkovsky.

Lift luar angkasa juga kadang-kadang disebut jembatan luar angkasa,
tangga menuju luar angkasa, menara orbit, atau elevator orbit.



Namun, teknologi saat ini tidak mampu menciptakan struktur yang kuat
namun juga ringan untuk lift luar angkasa. Hal ini disebabkan total
massa untuk konstruksi jika menggunakan bahan konvensional terlalu
besar. Konsep rencana terbaru dari pembuatan lift luar angkasa adalah
penggunaan bahan berbasis karbon nanotube.



Telah diketahui bahwa kekuatan bahan karbon nano-tube dalam skala
mikroskopis sangatlah kuat jika dibandingkan dengan bahan lainnya yang
telah ada sehingga secara teoritis dapat dipakai untuk pembuatan lift
luar angkasa.



















































Material terbaru dapat digunakan dalam pembuatan lift ke tempat lain di
tata surya, seperti Mars, yang memiliki gravitasi yang lebih lemah
daripada Bumi. Belum diketahui kapan proyek ini akan terlaksana, sejauh
ini proyek lift luar angkasa hanya berupa konsep.








Sumber :


NASA Mengungkap Foto Terbaru Permukaan Bulan


NASA memublikasikan gambar-gambar yang sebelumnya belum pernah diketahui
khalayak seputar tiga titik pendaratan di Bulan. Foto-foto resolusi
tinggi ini menampilkan gambar yang sangat detail atas situs eksperimen,
jejak kaki para astronot, serta kendaraan di Bulan.










Dalam sebuah jumpa pers, Jim Green, Director Planetary Science Division
NASA memperlihatkan foto-foto situs pendaratan Apollo 12, 14, dan 17
yang diambil oleh Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO).



“Kita bisa melihat jejak bekas langkah kaki para astronot dengan detail
yang lebih baik dan melihat dari mana mereka mengambil sampel-sampel
bebatuan di Bulan,” kata Noah Petro, geolog bulan di Goddard Space
Flight Center NASA, seperti dikutip dari Huffington Post, 7 September
2011.



Menurut Mark Robinson, peneliti dari Arizona State University yang
bertugas sebagai peneliti utama studi LRO, foto-foto baru ini berbeda
dengan foto-foto permukaan Bulan yang sebelumnya pernah diambil.



“Gambar dari Narrow Angle Camera pada ketinggian rendah memperdalam
pengetahuan kita terhadap permukaan Bulan,” ucap Robinson. “Salah satu
contoh adalah tajamnya bekas jejak kendaraan penjelajah di situs
pendaratan Apollo 17. Pada foto terdahulu, jejak tersebut memang
terlihat, namun kini garis paralel tajam terlihat di permukaan,”
ucapnya.



Foto-foto terbaru ini juga menggambarkan bahwa banyak puing-puing
tertinggal di permukaan Bulan di saat para ilmuwan tengah memprihatinkan
banyaknya sampah yang tertinggal di ruang angkasa, di orbit planet
Bumi.



“Kita gagal mengontrol kebersihan lingkungan,” kata Donald Kessler,
mantan peneliti senior NASA. “Tampaknya membersihkan sampah di ruang
angkasa kini sudah menjadi kebutuhan,” ucapnya.



Adapun misi ke Bulan berikutnya NASA adalah mengirimkan sensor kembar
untuk mempelajari gravitasi Bulan. Data yang dikumpulkan akan memberikan
informasi bagi ilmuwan untuk lebih memahami bahan-bahan pembentuk
Permukaan Bulan, hingga sampai ke intinya.








Sumber :


Senin, 05 September 2011

Astronom Temukan Bintang Terlarang

Tim astronom Eropa berhasil menemukan sebuah bintang terlarang dengan Very Large Telescope (VLT) European Southern Observatory. Bintang itu bernama SDSS J102915+172927, terletak di Konstelasi Leo, bermassa lebih rendah namun lebih tua 13 tahun dibandingkan dengan Matahari.




Penemuan ini dipublikasikan di jurnal Nature, Kamis (1/9/2011) lalu. Astronom mengatakan bahwa SDSS J102915+172927 adalah bintang terlarang karena berdasarkan komposisinya, hampir seluruhnya terdiri dari elemen hidrogen dan helium, minim unsur logam lain yang lebih berat.


"Teori yang diterima secara luas memprediksikan bahwa bintang semacam ini, dengan massa rendah dan minim logam, tidak seharusnya ada karena awan materi yang membentuknya tidak bisa terkondensasi," kata Elisabetta Caffau dari Zentrum fur Astronomie der Universitat Heidelberg, Jerman.


"Bintang ini sangat redup, sangat miskin logam, kita hanya bisa melihat tanda adanya satu unsur yang lebih berat dari helium, yakni kalsium, pada observasi pertama," tambah Piercarlo Bonifacio dari Observatoire de Paris, seperti dikutip Physorg, Rabu (31/8/2011) lalu.


Komposisi bintang diukur dengan X-shooter dan instrumen UVES pada VLT. Teknik ini memungkinkan ilmuwan untuk melihat kelimpahan beragam unsur kimia pada bintang.


Berdasarkan analisis, kandungan logam pada bintang terlarang ini 20.000 kali lebih kecil dari Matahari. Ilmuwan lain yang terlibat studi, Lorenzo Monaco, mengatakan, "bintang yang kita pelajari sangat miskin logam, artinya ini sangat primitif. Bintang ini mungkin menjadi salah satu bintang tertua yang pernah ditemukan."


Para kosmolog mempercayai, hidrogen dan helium terbentuk sesaat setelah big bang. Pada saat yang hampir bersamaan, unsur Lithium juga terbentuk. Sementara, unsur logam lain terbentuk dalam waktu jauh lebih lama setelah big bang. Ledakan supernova menyebarkan material pembentuk bintang ke interstellar medium, membuatnya kaya akan logam.


Bintang baru terbentuk dari medium ini dan memiliki kandungan logam lebih banyak dari bintang sebelumnya. Jadi, proporsi logam di suatu bintang bisa memberi petunjuk usianya. Satu lagi keunikan SDSS J102915+172927 adalah kandungan lithiumnya.


Berdasarkan teori, seharusnya jumlah lithium banyak sebab unsur ini terbentuk segera setelah big bang. Namun, ternyata jumlah lithium yang ada pada bintang ini 50 kali lebih rendah dari yang seharusnya.


"Masih merupakan misteri mengapa lithium yang terbentuk segera setelah big bang seperti dihancurkan pada bintang ini," tambah Bonifacio.


Caffau yang juga dari Observatoire de Paris, Perancis mengatakan, "Sangat mengejutkan bisa menemukan, untuk pertama kalinya, bintang pada "zona terlarang". Ini berarti bahwa kita mungkin harus melihat lagi beberapa model pembentukan bintang."




Sumber :

Senin, 22 Agustus 2011

NASA Temukan 'Aliran Sungai' di Mars

Kamera High Resolution Imaging Science Experiment (HiRiSE) yang ada pada Mars Reconaissance Orbiter (MRO) berhasil menangkap citra guratan pada kawah curam di Mars.



Para ilmuwan mempercayai, guratan tersebut merupakan tanda keberadaan air yang mengalir layaknya sungai.



http://assets.kompas.com/data/photo/2011/08/05/1011258620X310.jpg


"Ini adalah air masa kini, bukan yang terdapat di masa lalu," kata Alfred McEwen, pakar ilmu keplanetan dari University of Arizona yang terlibat penelitian ini.



Ia mengatakannya dalam konferensi pers yang diadakan NASA. "Penjelasan paling masuk akal dari hasil observasi sejauh ini adalah aliran air asin," sambung McEwen.



Meski demikian, ia buru-buru menegaskan bahwa hasil observasi yang dipublikasikan hari ini di jurnal Science ini bukanlah bukti keberadaan aliran air secara langsung. Meski demikian, alternatif penjelasan selain air mengalir masih belum ada.



"Membandingkan dengan Bumi, sulit menjelaskan bahwa guratan terbentuk dari aliran zat lain.



Pertanyaannya adalah, apakah ini terjadi di Mars, dan bila ya, mengapa hanya di tempat tertentu," jelas Richard Zurek, pimpinan proyek MRO dari Jet Propulsion Laboratory NASA.



McEwen menjelaskan, dari guratan yang ditinggalkan, tampak bahwa air yang mengalir memiliki kekentalan yang tinggi, membuatnya lebih mirip dengan aliran sirup.



Namun, McEwen menuturkan, "Kami belum tahu salinitas atau keasinan dari air yang mengalir itu."



Guratan-guratan itu merupakan guratan musiman yang terbentuk di musim panas membuat penampakan gelap dan seolah menghilang di musim dingin.



Guratan sudah ditemukan di 7 lokasi dan kemungkinan di 20 lokasi lainnya lagi. Salah satunya ada di sekitar kawah Newton.



Setiap lokasi penemuan kurang lebih memiliki 1000 guratan yang jika dilihat berbentuk seperti jari.



Lisa M Pratt, pakar biogeokimia dari Indiana Univerity mengatakan, guratan yang ditemukan bisa berpotensi menjadi tempat tinggal makhluk hidup, jika memang ada.



Di Bumi, mikroba bisa hidup di air asin yang tak pernah membeku, atau bahkan bisa mengalami dormansi di air beku.



"Ini sangat spekulatif karena kita tidak tahu apakah ada organisme di sana, atau apakah pernah ada sebelumnya," kata Pratt seperti dikutip the New York Times hari ini.



Guratan-guratan pada kawah Mars itu pertama kali terobservasi oleh pelajar University of Arizona, Lujendra Ojha. Ia tengah mempelajari perubahan kecil yang ada di planet Mars ketika akhirnya menemukan struktur guratan tersebut.



"Saya bingung saat pertama kali melihatnya dalam gambar setelah saya memproses dengan algaritma," kata Ojha.



"Tapi kami akhirnya sadar bahwa guratan itu ialah struktur berbeda dari yang ditemukan sebelumnya. Kami melihat bahwa ini struktur musiman dan bisa tumbuh hingga 200 meter dalam 2 bulan," sambung Ojha.



Konfirmasi struktur guratan yang tampak gelap dengan Compact Reconaissance Imaging Spectrometer for Mars (CRISM) memang tak menunjukkan tanda keberadaan aliran air secara langsung.



Tapi, ini tak menutup kemungkinan adanya aliran air yang cepat kering atau hanya dalam jumlah sedikit di bagian sub permukaan.



Menjelaskan penampakan guratan yang gelap dan kemampuannya berubah menjadi terang, McEwen mengatakan, "Guratan tampak gelap bukan karena aliran air yang basah. Aliran air asin bisa menyusun kembali butiran-butiran atau mengubah kekasaran permukaan sehingga tampak gelap. Bagaimana guratan tampak terang lagi saat temperatur turun, belum ada penjelasan."



McEwen mengatakan, "Ini masih misteri saat ini. Tapi saya pikir ini misteri yang bisa dipecahkan dengan penelitian lebih lanjut."



 
Sumber :

kompas.com

Sabtu, 20 Agustus 2011

‘Pita’ Muncul di Pusat Bima Sakti

Simpul cincin gas melebar lebih dari 600 tahun cahaya muncul di jantung galaksi Bima Sakti. Akhirnya, ‘pita’ ini berhasil diteliti untuk pertama kalinya.




Cincin gas ini yang melahirkan bintang baru ini memiliki belitan di tengahnya yang tampak seperti simbol tak terbatas kosmik. Bagian cincin memang pernah dilihat sebelumnya, namun Herschel Space Telescope milik European Space Agency baru saja melakukan penelitian pada struktur keseluruhannya.



Pesawat Herschel secara khusus dibuat untuk ‘mengintip’ pusat Bima Sakti karena mampu mendeteksi inframerah dan cahaya sub-milimeter yang mampu penetrasi melewati debu.



Menurut pernyataan Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, California, astronom terkejut melihat apa yang mereka temukan.



Saat mengarahkan teleskop ke cincin dalam galaksi, “Cincin yang ada tampak seperti simbol tak terbatas,” ujar laboratorium itu.



Ilmuwan mengaku belum memahami mengapa simbol tak terbatas itu tersimpul dan terbelit.



Selain itu, masih sedikit informasi diketahui mengenai cara cincin gas terbentuk dalam galaksi spiral. Selain itu, muncul misteri baru, cincin baru ini nampaknya sedikit maju dari pusat galaksi tempat lubang hitam besar berada.

Menurut penulis utama Sergio Molinari dari Institute of Space Physics, hal menariknya adalah mengenai peluncuran teleskop luar angkasa baru seperti Herschel.




Sumber :

Minggu, 31 Juli 2011

2 Black Hole Besar Ditemukan di Pusat Galaksi Markarian 739

Dari sebuah penelitian lebih lanjut, astronom mendapati bahwa Markarian 739, sebuah galaksi yang berjarak sekitar 425 juta tahun cahaya dari Bumi ke arah konstelasi Leo memiliki tidak cuma satu black hole raksasa, melainkan dua buah black hole di pusat galaksi itu.




Kehadiran galaksi kedua ini terdeteksi oleh satelit Swift dam Chandra X-Ray Observatory milik NASA.



Meski kedua lubang hitam itu berada di pusat galaksi, keduanya terpisah dengan jarak sekitar 11 ribu tahun cahaya atau sekitar sepertiga jarak tata surya kita dengan pusat galaksi Bima Sakti. Sebagai gambaran, satu tahun cahaya berjarak sekitar 10 triliun kilometer.



Kedua black hole yang ditemukan itu juga merupakan black hole yang sangat aktif dan masuk ke dalam klasifikasi ‘supermassive’ yang artinya, masing-masing memiliki massa yang sama dengan jutaan atau bahkan miliaran kali lipat massa bintang seperti Matahari kita.



Padahal, black hole biasa yang terbentuk akibat hancurnya bintang raksasa hanya berukuran 10 sampai 20 kali lipat dibandingkan dengan massa Matahari.



“Di pusat sebagian besar galaksi raksasa, termasuk Bima Sakti, berada sebuah supermassive black hole yang memiliki bobot jutaan kali lipat dibandingkan dengan massa Matahari,” kata Michael Koss, peneliti dari NASA, seperti dikutip dari Space. “Sebagian di antaranya memancarkan radiasi miliaran kali lebih besar dibanding energi Matahari,” ucapnya.



Namun demikian, Koss menyebutkan, meski supermassive black hole merupakan fenomena yang umum yang hadir di pusat galaksi, tidak semua black hole memancarkan energi radiasi yang disebut dengan ‘active galactic nuclei (AGN).



“Dengan demikian, mendapatkan sebuah black hole raksasa yang aktif sangat langka. Apalagi menemukan dua buah black hole raksasa dalam satu galaksi,” ucapnya. Astronom menduga bahwa sepasang supermassive black hole ini terbentuk saat ada galaksi yang hancur.



“Jika dua buah galaksi saling bertabrakan, dan masing-masing memiliki sebuah supermassive black hole, ada kemungkinan bahwa kedua black hole menjadi aktif sebagai AGN,” kata Richard Mushotzky, peneliti lain dari University of Maryland.



 
Sumber :

vivanews.com

Kamis, 28 Juli 2011

Artronom Temukan Tata Surya Kedua Di Antariksa

Para astronom telah menemukan sebuah sistem planet yang terdiri dari lima atau tujuh planet. Planet tersebut mengorbit bintang yang serupa dengan Matahari yaitu HD 10180. Hal ini menyebabkan sistem tatasurya yang mirip dengan sistem tata surya kita.



Tim astronom juga menemukan bukti bahwa jarak planet dari bintang HD 10180 yang mereka orbit memiliki pola yang teratur, seperti pada sistem tata surya kita.




"Kami telah menemukan apa yang paling mungkin dengan sistem tata surya kita" kata Christophe Lovis, penulis utama kertas pelaporan hasilnya.



"Studi tentang gerakan planet dalam sistem baru mengungkap interaksi gravitasi kompleks antara planet dan memberi kita wawasan ke dalam evolusi jangka panjang dari sistem."





Alat yang digunakan untuk melihat



Tim astronom menggunakan spektograf HARPS, melekat pada teleskop ESO's 3,6 meter di La Silla, Chile, untuk studi enam tahun-panjang HD 10180, yang terletak 127 tahun cahaya di konstelasi selatan Hydrus.



Para astronom mendeteksi gerakan kecil bintang disebabkan oleh atraksi gravitasi dari lima atau lebih planet. Kelima sinyal terkuat menunjukkan planet dengan massa sekitar Neptunus, yang mengorbit dengan jangka waktu berkisar enam sampai 600 hari. Mereka terletak di antara 0,06 dan 1,4 kali jarak Bumi-Matahari dari bintang mereka.



"Kami juga memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa dua planet lain yang ada," kata Lovis.



Salah satunya seperti sebuah planet Saturnus yang mengorbit dalam waktu 2.200 hari. Yang lain akan menjadi planet terkecil yang pernah ditemukan, dengan massa sekitar 1,4 kali Bumi. Ini sangat dekat dengan bintang inangnya, dan hanya dua persen dari jarak Bumi-Matahari.



"Objek ini menyebabkan goyangan bintang yang hanya sekitar tiga kilometer per jam - lebih lambat dari kecepatan berjalan - dan gerakan ini sangat sulit untuk diukur," kata anggota tim Damien Ségransan. Jika dikonfirmasi, itu akan menjadi sebuah planet berbatu panas, mirip dengan Corot-7b.



Wilayah bagian dalam sistem lebih dihuni dari kita sendiri. Mungkin tidak memiliki gas raksasa seperti Jupiter. Tidak seperti di tata surya kita, semua planet tampaknya memiliki orbit yang hampir lingkaran.



Sejauh ini, para astronom tahu sistem lima belas dengan setidaknya tiga planet. Catatan pemegang terakhir adalah 55 Cancri, yang berisi lima, dua dari mereka menjadi planet raksasa. "Sistem planet berukuran kecil seperti yang di sekitar HD 10180 tampaknya sangat umum, tapi sejarah pembentukan mereka tetap teka-teki," kata Lovis.



Menggunakan penemuan baru serta data untuk sistem planet lain, para astronom menemukan setara hukum Titius-Bode yang ada di tata surya kita: jarak dari planet dari bintang mereka tampaknya mengikuti pola yang teratur.



Mereka juga menemukan hubungan antara massa sebuah sistem planet dan sifat bintang inangnya.



Semua sistem planet yang sangat besar ditemukan di sekitar bintang besar dan logam-kaya, sementara empat sistem terendah-massal ditemukan di sekitar rendah-massa, bintang logam-miskin. Sifat semacam pastikan model teoritis saat ini.



"Penemuan ini luar biasa juga menyoroti fakta bahwa kita sekarang memasuki era baru dalam penelitian planet ekstrasurya: studi tentang sistem planet yang kompleks dan tidak hanya planet individu," kata Lovis.




Sumber :

Sabtu, 23 Juli 2011

Ditemukan, Awan Air Terbesar Sejagad Raya



Para ilmuwan baru-baru ini berhasil menemukan massa air raksasa terbesar dan tertua di jagad raya.

Massa air berbentuk awan itu, berusia 12 miliar tahun dan diperkirakan mengandung massa air  yang besarnya 140 triliun kali lipat dari seluruh massa air yang ada di bumi.



Awan uap air itu dikelilingi oleh sebuah lubang hitam supermasif yang dikenal dengan quasar, berada di lokasi yang berjarak sekitar 12 miliar tahun cahaya dari Bumi.


Seperti dikutip stasiun berita MSNBC, para ilmuwan mengatakan bahwa temuan ini membuktikan bahwa air telah ada sejak awal keberadaan jagad raya



"Karena cahaya yang kita lihat meninggalkan kuasar itu lebih dari 12 tahun cahaya, kita melihat kehadiran air hanya sekitar 1,6 milar setelah awal dari jagad raya," ujar Alberto Bolatto, salah seorang peneliti dari University of Maryland lewat sebuah pernyataan.




"Penemuan ini menandai keberadaan air semiliar tahun lebih dekat dengan peristiwa dentuman besar," kata Bolatto.


Quasar adalah obyek bercahaya dan paling energetik di alam raya. Kuasar ditenagai oleh lubang hitam besar yang menghisap gas-gas dan debu di sekitarnya lalu memuntahkan energi dalam jumlah ebsar.



Para tim astronom berhasil mendeteksi dan mengkonfirmasi keberadaan awan air itu di sekeliling quasar, melalui dua teleskop berbeda, satu di Hawaii dan satu lagi di California.




Peneliti memperkirakan, bahwa uap air itu terbentuk di awal kemunculan alam raya. Jadi, penemuan awan tua ini tida terlalu mengagetkan mereka. "Ini adalah bukti selanjutnya di mana air  meresap ke seluruh alam semesta, bahkan di saat-saat yang sangat awal," ujar pemimpin penulis riset, Matt Bradford, dari Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California.




Berwujud Es


Quasar APM 08279+5255  mengandung uap air yang besarnya 4.000 kali lebih besar daripada galaksi Bima Sakti, kata para peneliti. Hal ini mungkin dikarenakan banyak air di galaksi Bima Sakti yang berwujud es, bukan uap.



Uap air di quasar didistribusikan ke sekitar lubang hitam masif di wilayah yang panjangnya mencakup ratusan tahun cahaya. Awan tersebut memiliki suhu minus 63 derajat Fahrenheit (-17,2 derajat celsius), namun, atmosfer bumi memiliki kepadatan yang 300 triliun kali lebih padat daripada awan tersebut.




Setidaknya, awan itu lima kali lebih panas, dan 10 sampai 100 kali lebih padat daripada apa yang biasa dijumpai di galaksi-galaksi, termasuk Bima Sakti, kata para peneliti. Awan air itu juga mengungkap info penting lain tentang quasar.




Pengukuran uap air dan molekul-molekul lain seperti karbon monoksida, mengungkap kemungkinan bahwa terdapat jumlah gas yang cukup bagi lubang hitam untuk berkembang hingga sekitar enam kali dari ukuran sebelumnya. Temuan ini akan segera dipublikasikan pada
Astrophysical Journal Letters.




Sumber :

Galaksi-galaksi Menakjubkan di Jagat Raya

Teleskop HubbleSpace adalah kolaborasi antara NASA dengan European Space Agency yang sudah beroperasi selama 20 tahun tidak henti-hentinya mengambil foto-foto luar angkasa. HubbleSpace merupakan salah satu teleskop terbagus NASA. Para astronom pun memilih 10 foto galaksi terindah dari sekian banyak foto galaksi yang pernah diambil oleh teleskopo HubbleSpace ini.



Berikut adalah 10 foto Galaksi terindah di Jagad raya yang fotonya pernah diambil oleh Teleskop HubbleSpace :


1. The Sombrero Galaxy






2. The Ant Nebula






3. Nebula NGC 2392






4. Cat's Eye Nebula






5. The Hourglass Nebula






6. Cone Nebula






7. The Perfect Storm






8. Starry Night






9. The glowering eyes






10. The Trifid Nebula. A 'stellar nursery'






Sumber :

Rabu, 20 Juli 2011

Cara Astronom Mencari Planet Alien

 
Astronom memiliki lima taktik utama mencari planet yang lokasinya berada di luar tata surya. Salah satu teknik yang sudah terbukti berhasil menemukan planet-planet ini dan kerap digunakan pesawat Kepler adalah perlengkapan amatir pengamatan langit.
Planet yang mengorbit bintang, terletak di luar tata surya tempat matahari dan Bumi. Planet-planet ini muncul dengan beragam ‘rasa’. Termasuk, raksasa gas yang ukurannya 60 kali lebih masif dari Yupiter.
Raksasa gas ini bergerak di sekitar bintangnya dengan orbit ‘gila’. Selain raksasa gas, terdapat ‘Bumi super’ yang ukurannya jauh lebih masif dibanding planet tempat hunian manusia.
Menurut penulis senior Space Remy Melina, sementara dunia ini terlalu jauh untuk dilihat secara langsung, para astronom bisa mencari tahu efek keberadaan planet-planet ini pada matahari mereka, badan-badan lain, atau bahkan gelombang cahaya.
Metode kecepatan radial yang juga dikenal sebagai metode Doppler, menganalisa kecepatan bintang yang bergerak menuju atau menjauh Bumi seiring tarikan gravitasi planet yang menyentak maju dan mundur.
Metode astrometri memiliki cara kerja serupa. Bedanya, para astronom harus mengukur jarak goyangan bintang untuk jangka waktu lama menggantikan mengukur kecepatan bintang.
Teknik lain disebut metode microlensing. Teknik ini mencari distorsi dalam cahaya yang dihasilkan dari tarikan gravitasi. Medan gravitasi planet bisa memiliki dampak terukur pada cahaya yang dilewatinya.
Serupa, langkah-langkah teknik pulsar waktu mengenai apakah aliran bintang biasanya konstan terganggu gelombang radio yang berasal dari planet yang mengorbit di tempat itu.
Teknik transit mengambil keuntungan dari sedikit ‘celupan’ cahaya bintang yang terjadi saat sebuah planet lewat di depan bintangnya. Dengan mengukur penurunan kecerahan, astronom mampu mengumpulkan informasi berharga mengenai sebuah planet transit, termasuk massa dan ukuran.
Pada 2006, para astronom menggunakan teknik ini untuk menemukan exoplanet TrES-2 menggunakan tiga teleskop 4-inci (10 centimeter) yang astronom bangun dari sebuah kombinasi bagian-bagian yang sudah ada dan lensa buatan.
Sejauh ini, teknik transit paling banyak menemukan exoplanet. Pada 22 November 2010, para astronom mengkorfimasi adanya 502 exoplanet. Sebagai perbandingan, Misi pesawat ruang angkasa Kepler yang menggunakan metode transit berhasil mendeteksi lebih dari 700 exoplanet potensial sejak diluncurkan pada 2009.
 
Sumber :  

Jumat, 24 Juni 2011

Zeta Ophiuchi, Bintang Raksasa yang Melesat Lebih Cepat dari Peluru



Pernahkah Anda mendengar nama bintang yang satu ini? Jika belum, mari mengenal lebih jauh tentang benda angkasa ini. Zeta Ophiuchi merupakan bintang raksasa dan diperkirakan memiliki massa 20 kali lipat lebih besar dari Matahari. Penampakan visual bintang tersebut ditangkap oleh detektor infra merah di pesawat ruang angkasa milik NASA, bernama WISE (Wide-field Infrared Survey Explorer), yang diketahui berwarna biru terang dengan gumpalan debu luas di sekitarnya. Meskipun berwarna biru lembut seperti seolah mengandung es, bintang ini justru termasuk bintang yang panas. 


Zeta Ophiuchi juga dikenal sangat bercahaya dan bisa terlihat paling terang diantara bintang-bintang raksasa lainnya. Kumpulan debu yang terlihat membungkus Ophiuchi sebenarnya adalah akibat dari melajunya bintang tesebut yang didorong oleh kekuatan angin hingga membentur gas dan debu di sekitarnya sampai kemudian membentuk sebuah kabut kekuningan dan hampir menyerupai busur. 


Bintang ini awalnya tidak bergerak melesat. Ophiuchi mengorbit di sekitar bintang-bintang lain yang lebih besar dan raksasa, namun ketika bintang-bintang tersebut mati dan menimbulkan ledakan supernova, dorongan angin yang sangat kuat membuat Ophiuchi terhempas bagai peluru masif yang cepat. Bintang yang bergerak cepat ini akan menerjang semua gas dan debu yang menghalangi jalannya, membuat mereka bergumul menjadi seperti satu kesatuan hingga menciptakan pemandangan visual ruang angkasa yang menakjubkan—mirip busur raksasa yang bias.


Materi-materi yang bersatu di dalam busur tersebut terkompresi dan memancarkan cahaya inframerah yang kemudian tertangkap oleh WISE. Para ahli percaya bahwa efek busur ini sebenarnya mirip dengan efek kecepatan benda yang meluncur seperti pada umumnya—contoh; peluru yang mendorong angin, kapal laut yang melaju dan mendorong gelombang di depannya membentuk jejak air yang tidak permanen, atau laju mobil yang menerjang angin ketika sedang melesat. Karena begitu cepatnya Ophiuchi ‘berlari’, maka diperkirakan oleh NASA bahwa benda angkasa ini bergerak dengan kecepatan 24 kilometer per detik, atau sama saja dengan 54 ribu mil per jam.


Di gambar tersebut, Ophiuchi adalah titik biru cemerlang yang berada di balik busur kekuningan dan dikelilingi dengan semburat jingga. Gambar inilah yang berhasil ditangkap oleh WISE dan kemudian diteliti oleh NASA. WISE sendiri dioperasikan dan dikelola oleh JPL (Jet Propulsion Laboratory) dan diperuntukkan oleh Direktor Misi Sains NASA di markas besarnya di Washington. Ilmuwan utamanya bernama Edward L. (Ned) Wright, seorang Astrofisikawan Inframerah dan Kosmologi yang telah bernaung di UCLA sejak tahun 1981. Proyeknya yang paling terkenal dan membuatnya meraih penghargaan dari NASA adalah satelit COBE (Cosmic Background Explorer) yang dimulai pada tahun 1987—yang kemudian diikuti dengan proyek-proyek lainnya, termasuk SIRTF (Space Infrared Telescop Facility) dan MAP (Microwave Anisotropy Probe).


Bintang Ophiuchi baru ditemukan oleh NASA di Januari tahun 2011. Keberadaannya yang menarik kemudian mendorong para ilmuwan NASA untuk mencari tahu lebih banyak tentang si bintang biru raksasa ini. Belum diketahui kapan atau dimanakah Bintang Ophiuchi akan berhenti ‘berlari’. Mungkin masih sangat lama dan masih sangat jauh. Dan sementara itu timbul pertanyaan dari berbagai pihak, seperti misalnya, apakah bintang Ophiuchi pernah/akan menabrak benda angkasa solid lain di perjalanannya? Jika iya, apakah dampak yang akan terjadi akibat benturan tersebut? Akankah berbahaya bagi Bumi dan dan planet-planet di sekitarnya? Tentunya kita tidak mengharapkan benda cantik tersebut untuk menjadi bencana bagi alam semesta. Dan para ilmuwan NASA sendiri akan terus menyelidiki Ophiuchi sampai pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa terjawab.




Sumber :